PAPER 6
Membuat cerpen
dengan tema cinta kasih/kasih sayang!
Cinta di Ujung
Senja
“Apakah kau tahu
seperti apa jatuh cinta?”
Katamu kala itu
tanpa mengalihkan pandanganmu pada awan yang berarak riang.
“Entahlah!” jawabku
sembari menggelang pelan.
Walau aku tahu
kau pasti tak melihatnya. Kau terlalu sibuk dengan langit sore. Menikmati
indahnya mega merah di ufuk selatan.
Kualihkan
pandanganku sejenak.
“Apakah kau tahu
seperti apa perasaanmu padaku?”
Aku kembali
menggeleng. Kali ini kau melihatnya.
“Benar, kau
pasti tak tahu,” lanjutmu bergumam nyaris tak terdengar.
Kau tersenyum
tipis. Lalu kita kembali terdiam. Terus diam. Hingga akhirnya aku mengingat
hari itu sebagai kenangan.
Senja, begitulah
aku mengenalmu di hatiku. Hal terindah dan terbaik yang pernah kumiliki namun
tak pernah kusadari. Seperti langit sore yang akan selalu hadir tanpa kita
minta. Seperti embun yang berkaca-kaca mengantar pagi, lalu jatuh dan merasuk
ke tanah. Namun akan kembali menyapa lembut pagi esok hari.
Aku tak sadar
betapa pentingnya kau dalam hidupku, hingga kau lenyap dari hidupku. Sejak sore
itu aku tak pernah bisa menemukanmu. Kau bagai lenyap ditelan bumi. Atau
mungkin terbang bersama angin dengan begitu cepatnya tanpa sempat mengucapkan
salam perpisahan.
“Nugie!” Suara
kakakku yang cempreng mengakhiri lamunan panjangku. Tanpa berkata aku segera
bangkit dan membuka pintu.
“Apa?”
“Jangan suka
meninggalkan barang disembarang tempat! Menganggu tahu!” gerutunya kesal. Ia
meraih telapak tanganku kasar lalu meletakkan BBku di dalamnya.
“Kepalaku sampai
pusing mendengarnya!”
“Siapa yang telfon?”
“Mana aku tahu,”
jawabnya kemudian melengos pergi tanpa permisi.
Aku kembali ke
ranjang. Kuamati layar HPku. Private number.
“Sial!”
Sudah tiga tahun
Senja. Namun entah mengapa kau tak jua hilang dari kepalaku. Mungkin ada yang
salah dengan program di otakku. Harus segera di install ulang. Tak ada yang
pernah membuatku begini. Karena bagi seorang Don Juan sepertiku tak ada
ceritanya setia. Apalagi menunggu sesuatu yang tak benar-benar ada. Ganti pacar
sudah layaknya ganti baju. Bahkan sejak SMA dulu teman-temanku menjulukiku
Cassanova.
Lagu Bruno Mars
melengking seiring HPku yang bergetar berirama. Sejenak kulirik nama yang
muncul di layar. Indi.
“Ah….ini dia!” gumamku
dalam hati. Ini adalah kesempatan agar aku bisa bertemu dan memintanya untuk
melupakanku. Akhir-akhir ini dia jadi super protektif. Membuatku risih. Tapi
aku tak enak hati memintanya bertemu hanya untuk menyakitinya. Apalagi selama
ini dia sangat baik dan setia.
“Hallo, Nug!” Serobotnya
cepat setelah kutekan tombol accept.
“Ya!”
“Kau ada acara
malam ini?” katanya to the point. Dia memang bukan seseorang yang suka
basa-basi. Bahkan bisa dikategorikan tak tahu malu.
Aku berfikir
sejenak sambil menimbang-nimbang.
“Nug!”
Ah….dia memang
sungguh tak sabaran.
“Gak ada. Kenapa?”
“Temani aku
resepsi temanku!”
“Siapa?”
“Bukannya kamu
juga diundang?”
Aku terdiam. Mengingat-ingat.
“Jangan bilang
kamu lupa! Rangga.Temanmu futsall.”
Kutepuk
kepalaku. Bagaimana aku bisa lupa. Aku bisa jadi bahan bulan-bulanan seminggu
penuh klub futsall kalau aku sampai tak datang.
“Iyaa…,” Jawabku
akhirnya setelah mendapatkan kembali kesadaranku.
“Iya apanya?”
“Iya aku temani.
Dijemput jam berapa?”
“Tujuh tepat.”
“Yaa,”
“Jangan
terlambat!”
Klik. Sambungan
terputus. Dan aku kembali tenggelam di kasurku yang empuk.
Tepat pukul 7
aku sudah sampai di depan rumah Indi untuk menjemputnya dan langsung on the
way. Sesampainya disana...,
“Aku masuk dulu!
Tunggu aku di lobby!” katanya terburu-buru setelah turun dari mobil.
Tanpa berkata
lagi ia berjalan tergesa. Aku tahu pasti dia pergi kemana. Toilet. Dasar
wanita. Dandan berjam-jam di rumah masih belum afdol kalau belum mematut diri
di kaca toilet.
Dengan
kepercayaan diri penuh ku langkahkan kakiku. Aku tahu semua mata sedang melirik
padaku sembari berbisik satu sama lain.
“Lihat! Kau
bintangnya malam ini!” kata Ian yang tiba-tiba saja sudah berdiri disampingku
sambil tergelak.
“Bukannya sudah
begitu dari dulu?” kataku pede.
Ia hanya
manggut-manggut lalu merangkulku.
“Kau datang
bersama Indi?”
“He-eh”
“Aku melihatmu
diparkiran”
“Oooo….”
“Jangan-jangan
ada yang nyusul Rangga, nih!” godanya.
“Impossible! Aku
sedang mencari moment yang tepat untuk melepasnya,”kataku berbisik.
Ian menghentikan
langkahnya, memandangku sejenak. Sepertinya sedang mencari kesungguhan disana.
“Dasar
Cassanova!” katanya sembari tergelak. Akupun ikut tersenyum lebar. Namun segera
senyumku lenyap tak bersisa saat kulihat sosok yang berdiri di samping Rangga.
“Senja…,”panggilku
tertahan. Tepat bersamaan dengan Indi yang memanggil namanya juga lalu
memeluknya bahagia.
“Senja dan
Rangga? Oh tidak……!”bisikku dalam hati.
Seluruh tubuhku
bergetar. Semua kepercayaan diriku terberangus. Aku terhempas. Bagaimana bisa? Tuhan
kumohon jangan bermain dengan hatiku.
Entah mendapat
ide darimana segera kulangkahkan kakiku menjauh. Aku harus pergi sebelum Rangga
atau Senja menyadari kehadiranku. Hal itu tiba-tiba saja terbesit di benakku. Sebagai
cara mempertahankan hati dan reputasiku.
“Mau
kemana?”Tanya Ian ketika menyadari ketergesaanku.
“Aku ada urusan
penting,”jawabku asal.
“Tapi bagaimana
pestanya?’
“Aku segera
kembali!”bohongku
“Indi…..?”
Kuangkat sebelah
tanganku tepat dipelipis. Ian sepertinya mengerti isyaratku.
“Ok. Akan ku
urus!”
“Sip….!”
Aku segera
berbalik dan mempercepat langkahku.
“Jangan lupa
pesta bujangan nanti malam!”katanya setengah berteriak.
Kubalikkan
tubuhku sebentar lalu tersenyum kecut sebelum kulanjutkan langkahku. Kuharap
Ian tak tahu arti senyumku dan betapa galaunya aku.
Ku injak pedal gas
dalam-dalam ketika memasuki tol yang kebetulan sedang lenggang. Seolah aku
sedang berlomba dengan ribuan jarum tajam yag mengoyak hatiku. Aku ingin segera
sampai rumah lalu merebahkan tubuhku yang tiba-tiba terasa begitu penat. Ah
ternyata aku begitu melankolis. Toh, pada akhirnya cassanova sepertiku terpuruk
dalam cinta.
BBku terus berdering.
Begitu banyak nomor yang muncul silih berganti di layarnya. Aku sungguh tak
berminat menjawab satu pun dari sekian banyak panggilan itu. Aku ingin sendiri.
Aku butuh ruang dan waktu untuk menata hatiku.
Tuhan, tolong! Aku
adalah Don Juan yang sedang galau dan patah hati! Mengapa mereka begitu ribut. Tidak
bisakah mereka berpesta tanpa aku?
Ku urungkan
niatku pulang. Kubanting stir ke kiri menuju pantai. Sepertinya pantai jauh lebih
baik untukku daripada tenggelam di kamarku yang sumpek dan pengap. Setidaknya
aku bisa menghirup angin laut untuk mengisi kembali kekuatanku. Berbisik pada
ombak yang berdebur. Atau tenggelam di balik kemudi dalam pekatnya malam tanpa
seorangpun mengganggu perenunganku.
Kubuka mataku
perlahan saat sinar matahari menerobos celah jendela mobilku yang terbuka. Jam
di dashboard menunjuk angka 7. Aku tersenyum tipis.
“Saatnya
melanjutkan hidup!”ujarku sembari menekan tombol ON di pojok atas HPku.
Lagu Bruno Mars
melengking dengan hebatnya, membuatku begitu kaget.
“Yaa, ada apa?”
“Ada apa
bagaimana? Kemana kau semalam? Kenapa tidak pulang?”semprot kakakku di
seberang.
“Kakak aku ini
pria dewasa!”
“Lalu….,”
“Tidak masalah
kalau sekali-kali tidak pulang.”
“Siapa yang
melarangmu?”
“Baguslah!”
Kakak tak
bersuara. Diam. Namun masih kudengar desah nafasnya. Dan sambungan juga belum
terputus.
“Kak!”panggilku
hati-hati.
“Hm…,”
“Maaf, seharusnya
aku menelfon!”
“Ya. Syukurlah
kau baik-baik saja. Aku takut terjadi sesuatu. HPmu juga gak aktif. Siapa tahu
pulang pesta bujang kau mabuk lalu tabrakan.”
“Kakak, kenapa
berfikir aneh-aneh? Kakak kangen ya?”ledekku.
“Dasar bodoh! Cepat
pulang!”
“Iyaa….,”
“Ada kejutan untukmu…,”suaranya
terdengar begitu riang.
“Apa?”
“Cepat pulang! Nanti
kau juga tahu….,”
Klik. Sambungan
terputus. Dasar kakak. Dia pasti sedang balas demdam karena aku sudah
membuatnya khawatir semalam. Sekarang dia ganti membuatku penasaran. Di
sepanjang jalan aku terus menebak-nebak kejutan apa yang menungguku di rumah. Namun
tak kutemukan jawaban.
Ku edarkan
pandanganku menyapu seluruh ruang tamu sesaat setelah kutinggalkan mobilku
begitu saja di halaman depan. Aku beralih ke ruang keluarga. Ke dapur. Ruang
makan. Garasi. Taman belakang. Ruang baca. Sudah kujelajahi seluruh rumah namun
tak ada yang kutemukan, selain Bik Inah yang sibuk mencuci.
Aku bergegas
memburu kakak ke kamar. Mungkin dia sedang mandi. Tapi hanya kutemukan memo
tertempel di pintu kamarnya.
- Aku keluar
belanja –
“Huuff!”aku
mendengus kesal dan kecewa.
Sepertinya kakak
sedang mengerjaiku. Dan bodohnya aku percaya dengan begitu mudahnya. Lagipula
kejutan apa yang ku harapkan. Tak ada yang special. Satu-satunya yang tersisa
hanya kakak, setelah ayah dan ibu meninggal dalam kecelakaan pesawat saat
melakukan perjalanan bisnis. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Kakak
mengambil alih semua tanggung jawab dan membesarkanku. Itu juga alasan kenapa
ia belum juga menikah sampai sekarang. Aku sering mendesaknya,namun ia terus
mengelak.
“Kau saja yang
menikah duluan! Kakak bru menyusul,”ia selalu berkata begitu.
Aku pun selalu
tak bisa berkata apa-apa selain menggerutu. Mesti aku tahu kenapa dia begitu. Dia
sangat menyayangiku. Dia ingin memastikan adiknya yang badung ini bahagia, baru
ia bisa memikirkan kebahagiaan untuk dirinya.
Gontai ku
arahkan langkahku ke kamar. Perutku terasa tak nyaman. Mungkin masuk angin.
Kriitt…….
Kutarik handle pintu, namun pemandangan yang kutemukan membuatku kaget setengah
mati. Sosokmu sepertinya juga sama kagetnya denganku. Hingga buku-buku yang
tadinya bertumpuk rapi di meja jatuh berserakan ke lantai tersenggol tanganmu
yang terburu-buru bangkit dari kursi karena melihatku.
“Senja!”panggilku
gemetar.
Nama itu
meluncur begitu saja dari mulutku. Kucubit lenganku. Sakit. Bukan mimpi. Tapi
bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah semalam aku melihatmu berdiri di samping
Rangga dalam acara pertunangan. Lalu bagaimana pagi ini kau bisa muncul di
depanku? Bahkan duduk tenang dalam kamar membaca koleksi bukuku.
Ah….aku pasti
sudah gila. Hingga aku bisa bermimpi dalam sadar.
“Kau baik-baik
saja?”tanyamu hati-hati. Mungkin kau menyadari ketakpercayaanku.
“I…iya,”jawabku
gugup sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Maaf, Kak Vira
menyuruhku menunggu disini!”
“Kak Vira?”
“Iya..,”dia
mengangguk pelan.
Mungkin ini
kejutan yang kakak maksud. Aku melangkah ke ranjang. Sembari menata hati dan
fikirku. Aku merasa begitu kikuk bersama denganmu dalam kondisi seperti ini. Tapi
tak bisa dipungkiri aku menyukainya.
“Duduklah! Tidak
apa-apa,”ucapku saat kulihat kau masih berdiri. Sepertinya kau juga merasa
canggung.
Kutarik nafas
dalam,”Aku melihatmu semalam di pesta Rangga!”lanjutku setelah berhasil
menstabilkan debaran didadaku yang tiba-tiba berjalan begitu cepatnya. Seolah
berlomba dengan waktu.
“Ya. Aku tahu.”
“Benarkah?”tanyaku
sinis.
Tak ada jawaban.
Kau terdiam. Melalui ekor mataku kulihat tatapanmu yang jauh menerangan ke
depan. Kosong.
“Kalau tidak
mana mungkin aku bisa sampai disini,”lanjutmu lirih.
“Lalu….,”
Kau kembali
terdiam sejenak. Wajahmu berubah keruh. Dan kulihat airmata mengembang di
matamu.
Hatiku begitu
terenyuh melihatmu.
“Jika bukan
karena melihatmu semalam, sekarang aku pasti sudah melanjutkan hidupku. Kenapa kau harus muncul? Kenapa Rangga harus
mengenalmu?”
Aku semakin tak
mengerti kemana arah pembicaraanmu. Setahuku akulah yang terluka. Akulah yang
kau tinggalkan. Akulah yang kau campakkan dengan kejam. Akulah yang selama tiga
tahun diam-diam merindu dan mendambakanmu. Sedang kau hilang tanpa sepatah
katapun.
“Bagaimana kau
tahu alamatku?”tanyaku.
Seingatku aku
tak pernah memberitahunya.
“Indi….!”
“Indi?”
“Ya…….,”kau
menarik nafas panjang penuh lelah. Ku rebahkan punggungku di sandaran ranjang. Aku
merasa semakin penat. Hampir sepuluh menit kami hanya saling diam.
“Nug!”suaranya
yang lembut memecah keheningan.
“Hm,”mataku
setengah terpejam. Antara mengantuk dan lelah.
“Ada sesuatu
yang ingin kukatakan.”
“Benarkah? Apalagi
yang mau dikatakan? Bukankah dulu kau menghilang tanpa jejak?”
“Benar.”
“Lalu apa yang
membuatmu kesini?”tanyaku masih dengan nada sinis.
Mungkin kau mau
pamer, sekarang kau sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Sedang aku
harus terpuruk dalam luka. Meratapi betapa nasib tak berpihak padaku.
Kali ini kutatap
wajahmu lekat-lekat. Oh…Tuhan kulihat luka yang tergores jelas di matamu yang
dulu sebening telaga.
“Senja….,”panggilku
lembut. Aku mulai sadar kalau kau tidak sedang baik-baik saja.
“Maaf!”katamu
menunduk menyembunyikan air matamu yang perlahan jatuh.
“Ada apa?”
tanyaku penasaran.
Kau terisak
tertahan.”Ini semua salahku. Seharusnya aku tak pernah menemuimu lagi!”
“Ada apa?”aku
semakin penasaran.
“Tapi aku tak
punya pilihan lain. Kau berhak untuk tahu.”
“Ada apa?”
Dia terdiam
sejenak. Seolah sedang mengumpulkan keyakinan.
“Aku sudah lama
memikirkannya .Dan aku tak boleh terus egois kepadamu dan juga pada Bintang,”
“Bintang…?”aku
semakin tak mengerti.
Dia kembali
terdiam.
“Bintang….?Siapa
Bintang?”aku mengulang pertanyaanku.
“Maaf!Maaf!Maaf!”kau
terus mengucapkan kata maaf sembari menahan tangis.
“Bintang
siapa?”aku menggoyangkan pundaknya karena tak jua kudapatkan jawaban.
“Bintang putraku.
Anak laki-lakimu. Anak kita,”
“Anak?” tanyaku
terkejut.
Dia mengangguk
pelan. Tangisnya pecah sudah. Ku lihat tak ada kebohongan di matanya.
“Ya Tuhan!”kataku
lemas.
Aku ingat aku
pernah melakukan tindakan yang seharusnya tak boleh kulakukan padamu saat Pesta
kembang api tahun baru beberapa tahun yang lalu. Aku memang bejat tapi sungguh
hanya kaulah wanita pertama dan satu-satunya yang membuatku sanggup berbuat
begitu. Dan tak ada keraguan di hatiku atas ucapanmu. Namun kenapa begini?
“Maaf!”katamu
sambil mencoba menghalau tangismu.
“Mengapa seperti
ini, Senja? Kenapa kau....,baru sekarang? Kenapa tak dari dulu?”
“Aku tahu ini
terlambat, namun kau berhak untuk memutuskan apakah kau bersedia ataupun tidak
mencantumkan namamu di akta lahir Bintang..”
“Senja?”
“Sungguh aku tak
punya maksud apa-apa. Aku juga tidak menuntut tanggung jawab. Aku yang memutuskan
untuk membiarkan Bintang hidup. Akulah yang harus bertanggung jawab. Maaf jika
ini menyakitkan, kau boleh menolak.”
“Senja!”bentakku
“Ini nomerku. Hubungi
aku jika kau sudah mengambil keputusan!”katamu sambil meletakkan secarik katu
nama di meja sebelum beranjak. Sepertinya kau sudah mendapatkan kembali
kekuatanmu.
Aku tertegun
sejenak, namun segera bangkit memburumu sebelum sempat menarik handle pintu.
“Jangan
pergi!”pintaku setelah berhasil meraih tanganmu.
Kau menggeleng
tanpa menoleh.
“Kumohon!”kataku
sembari membalikkan tubuhmu. Kurasakan hembusan nafasmu yang hangat menyentuh
kulit wajahku. Kita memang begitu dekat.
Kau kembali
menggeleng.
“Sudah
terlambat, Nug. Ini takkan berhasil.”
“Tak ada kata
terlambat!”Kukecup bibirmu lembut. Dua bulir air matamu menetes.
“Percuma, Nug.
Takkan bisa merubah apa pun” Kau mundur selangkah.
“Percayalah
padaku!”
“Tidak,”
“Aku akan bicara
pada orang tuamu. Kita ke rumahmu sekarang!”
“Aku tak tinggal
disana!”
“Haa…?”Aku
mengernyitkan dahi.
“Ayah mengusirku
dari rumah sejak tahu aku hamil dan tak bisa mengatakan siapa bapak dari
janinku. Ayah memintaku untuk menggugurkannya. Tapi aku menolak.”
“Ya, Tuhan! Kenapa
tak pernah bilang padaku?”
“Kau takkan siap
untuk berkomitmen sebesar itu! Apalagi seorang menjadi ayah! Saat itu kau masih
terlalu muda.”
“Darimana kau
tahu?”
Kau melepaskan
genggamanku lalu kembali duduk. Kali ini disisi ranjang. Aku ikut duduk di
sampingmu. Sembari kugenggam jemarimu yang kurus. Aku tahu kau akan
meninggalkanku.
“Ingatkah kau, aku
pernah bertanya padamu tentang perasaanmu padaku di ujung senja tiga tahun yang
lalu?”
Tentu saja aku
ingat. Tak mungkin aku melupakannya. Itu adalah hari dimulainya penantian
panjangku.
“Dan ingatkah
jawaban apa yang kau berikan untukku?”
“Jadi itu alasan
kenapa kau pergi tanpa berkata apa pun dan menanggung semua tanggung jawab
sendirian?”
Kau tersenyum pahit.
“Kita ke
rumahmu!”
“Untuk apa?”
“Aku ini lelaki.
Mana mungkin aku tak bertanggung jawab!”
“Ayah bisa
membunuhmu!”katamu sembari menggeleng.
“Apapun itu aku
tak peduli! Takkan pernah kubuang kesempatan memiliki wanita yang begitu ku
rindukan selama tiga tahun dan menjadi ayah dari Bintang. Jika saja dari dulu
semua pasti akan lebih mudah. Namun terlambat lebih baik daripada tidak sama
sekali,”kataku optimis.
“Nug!”kau
mendongkak mengangkat wajahmu.
“Kali ini kumohon
percayalah padaku!”kataku sembari meraihmu dalam pelukku.
Kau menurut. Kurasakan
air matamu hangat menyentuh dadaku. Kubiarkan kau tenggelam dalam tangismu. Kau
sudah telalu lama menjadi tegar dan kuat. Sekarang aku yang akan menjaga dan
menemanimu. Jadi bersandarlah padaku.
“Aku sangat
lelah, Nug!”
“Ya, aku tahu!
Tidurlah! Aku akan menjagamu.”kataku sambil mengelus rambutmu yang hitam.
Kau mengangguk
lalu merebahkan tubuhmu di ranjang sebelum akhirnya terpejam. Ku kecup keningmu
lembut sebelum sosok mungil muncul dari balik pintu bersama kakak.
“Sssstttt…..!” Kuletakkan
telunjukku di bibir. Dia mengangguk mengerti.
“Anak pintar!” Kakak
mengelus rambutnya. Dia tersenyum. Sangat manis.
Kutinggalkan
Senja terlelap. Sosok mungil itu perpindah dalam gendonganku.
“Mama lelah!
Bintang ikut Papa bermain!” Dia tersenyum lalu berceloteh menjawab
pertanyaanku. Kakak hanya mengekor di belakang.
Dia anakku. Tak
perlu diberitahu jika aku bertemu dengannya aku pasti tahu. Dia sangat mirip
denganku saat seusianya.
Terimakasih
Tuhan,, telah mengembalikan Senja bahkan menambahkan Bintang sebagai bonus. Semua
penantian selama tiga tahun tak ada artinya untuk kebahagiaan yang kini
kumiliki.
“Sekarang tak
ada alasan untuk kakak tak segera menikah!”
“Tentu. Tapi
setelah kau berhasil meyakinkan Ayah Senja untuk menikah!” Katanya sembari
mengacak rambukku.
“Kakak, aku
bukan anak kecil lagi.”
“Iya, sekarang
kau seorang Ayah!”
Aku nyegir. Lalu
kami tersenyum. Bintang ikut tersenyum. Kucium pipinya gemas.
Kini aku bukan
lagi Nugie seorang Cassanova. Kini aku seorang ayah dan pria paling bahagia di
dunia. Dan kini aku telah menemukan cinta sejatiku untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar