PAPER
12
Manusia
dan Pandangan Hidup
Pandangan Hidup
Pandangan
hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing
kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi
kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan
aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang
telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat
berarti cinta akan kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa
saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh
semua orang dan semua golongan.
Macam-macam
Pandangan Hidup
Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya
yaitu terdiri atas tiga macam.
1. Pandangan hidup yang berasal dari agama, yaitu pandangan
hidup yang mutlak kebenarannya.
2. Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan
dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada Negara tersebut.
3. Pandangan hidup hasil renungan, yakni pandangan hidup yang
relative kebenarannya.
Ideologi
Ideologi mempunyai arti pengetahuan
tentang gagasangagasan, pengetahuan tentang ide-ide, science of ideas atau
ajaran tentang pengertian-pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari
menurut Kaelan ‘idea’ disamakan artinya dengan citacita.
Macam-Macam Ideologi
1. Pancasila
Dianut oleh bangsa Indonesia dengan
berlandaskan pada pancasila dan UUD ‘45
2. Liberalisme
Mengunggulkan pemerintahan
demokratis, tujuan utama mempertahankan kebebasan, persamaan dan keamanan.
Menjunjung hak-hak pribadi.
3. Komunisme
Ateisme, dogmatis (tidak percaya
pemikiran yang lain), Otoritas, menjunjung hak-hak kelompok (tidak mengakui hak
individu)
4. Fasisme
Rasis, imperialis, totaliterisme,
kekuasaan absolut tanpa demokrasi, menganggap bangsanya lebih unggul dibanding
bangsa lain.
5. Nasionalisme
Kecintaan akan kelompok tertentu
dalam suatu wilayah dikarenakan persamaan nasib, sejarah d.l.l.
6. Sosialisme
Paham yang menghendaki segala sesuatu
harus diatur dan dinikmati bersama. Kepemilikan bersama suatu benda (satu benda
dimiliki oleh orang banyak untuk menghindari dominasi suatu
kelompok/perorangan). Egalitarian (sama).
7. Konservatisme
Mempertahankan tradisi, stabilitas
sosial, menentang radikalisme, mendukung nilai tradisional.
8. Kapitalisme
Pemilik modal dapat melaksanakan
usahanya dan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Pemilik modal lebih
utama dibandingkan kaum pekerja, kebebasan ekonomi, kompetisi sempurna,
perekonomian liberal tanpa proteksi.
9. Anarkisme
Meyakini kebebasan individu akan
didapat jika pemerintah dan lembaga pendukungnya dihancurkan. Wewenang yang
mempunyai kekuatan moral ialah wewenang individu yang diberikan kepada dirinya
sendiri.
10. Demokrasi
Pemerintahan dari, oleh, dan untuk
rakyat. Kedaulatan tertinggi ditangan rakyat.
11. Marxisme
Ateis, materialisme dialektis,
normanya rigid (kaku), legitimasi monopoli kekuasaan oleh sekelompok orang atas
nama kaum proletar (masyarakat kelas dua setelah kapitalis (pemilik modal)
pekerja yang mendapat gaji dari hasil kerjanya)
12. Feminisme
Emansipasi wanita, memperjuangkan
persamaan hak kaum wanita supaya sama dengan kaum pria.
13. Leninisme
Mirip marxisme berkembang di rusia,
negara merupakan alat bukan tujuan, alat-alat produksi milik sosial, sarana
produktif milik negara atau koperasi.
14. Trotskyisme
Pendiri Leon Trotsky, mengajarkan
revolusi abadi, sosialisme harus berkembang hingga meluas ke luar Rusia.
15. Stalinisme
Berasal dari nama Stalin, tokoh sosialis Soviet, Sosialisme harus berkembang di dalam Soviet (Soviet menjadi benteng sosialisme)
Berasal dari nama Stalin, tokoh sosialis Soviet, Sosialisme harus berkembang di dalam Soviet (Soviet menjadi benteng sosialisme)
16. Maoisme
Ideologi komunis di Tiongkok
didirikan oleh Mao Zedong, mementingkan peran petani daripada buruh.
17. Neoliberalisme
Cara pandang kebijakan yang
menekankan pada kebutuhan kompetisi pasar bebas. Perpaduan antara liberalisme
dan kapitalisme.
18. Demokrasi Islam
Berlandaskan Al-Qur’an, Hadits, dan
Sunnah, perbuatan terikat dengan hukum syaro’
19. Fundamentalisme
Menjadikan mahzab menjadi basis
ideologi suatu negara, intoleransi, menolak perubahan.
Cita-cita
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia,
yang disebut cita-cita adalah keinginan,
harapan, tujuan yang selalu ada dalam
pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan
merupakan apa yang mau diperoleh
seseorang pada masa mendatang. Dengan
demikian cita-cita merupakan pandangan masa depan,
merupakan pandangan hidup yang akan datang.
Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum
mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut
angan-angan. Disini persyaratan dan kemampuan tidak/belum
dipenuhi sehinga usaha untuk mewujudkan cita-cita itu
tidak mungkin dilakukan. Misalnya seorang anak bercita-cita
ingin menjadi dokter, ia belum sekolah, tidak
mungkin berpikir baik, sehingga tidak punya
kemampuan berusaha mencapai cita-cita. Itu baru
dalam taraf angan-angan.
Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa
yang akan datang sebagai ide atau cita-cita terdapat jarak waktu.
Dapatkah seseorang mencapai apa yang dicita-citakan, hal itu
bergantung dari tiga faktor. Pertama, manusianya yaitu yang
memiliki cita-cita; kedua, kondisi yang dihadapi selama mencapai
apa yang dicita-citakan; dan ketiga, seberapa tinggikah cita-cita
yang hendak dicapai.
Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan pada
hakikatnya adalah perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma
agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu
baik dan makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung
berbuat baik.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita
harus melihat dari tiga segi, yaitu :
Manusia sebagai pribadi, Yang
menentukan baik-buruknya adalah suara hati. Suara hati itu semacam bisikan
dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara hati itu
merupakan hakim terhadap diri sendiri.
Manusia sebagai anggota masyarakat, Yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati masyarakat. Suara hati
manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik.
Manusia sebagai makhluk tuhan, manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu
membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak
baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik dan buruk, harus kita dengar pula
suara Tuhan atau Kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk Hukum Tuhan atau
Hukum agama.
Jadi, kebajikan itu adalah perbuatan
yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat, dan Hukum Tuhan.
Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik,
ramah-tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang
melihatnya.
Faktor-faktor yang Menentukan Tingkah Laku Seseorang
Faktor Internal
Tingkah
laku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh factor yang ada
dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud adalah :
a. Jenis
Ras atau Keturunan
Setiap
ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas
ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri
perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol
dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong
royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian
pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b. Jenis
Kelamin
Perbedaan
perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan
pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa
dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian
tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang
laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c. Sifat
Fisik
Kretschmer
Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya.
Misalnya, orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis.
Orang dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak
teman.
d. Kepribadian
Kepribadian
adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang
digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik
yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan
kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu.
Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh
terhadap perilaku sehari-harinya.
e. Intelegensi
Intelegensia
adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara
terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah laku
individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi
oleh intelegensia adalah tingkah laku intelegen di mana seseorang dapat
bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan.
f. Bakat
Bakat
adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan
khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya
berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya.
Faktor
Eksternal
a. Pendidikan
Inti
dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses
belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian
pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang
berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan
rendah.
b.
Agama
Agama
akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang
diajarkan oleh agama yang diyakininya.
c. Kebudayaan
Kebudayaan
diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku
seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada
kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang
Papua.
d. Lingkungan
Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik,
biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan
perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan
bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan
lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
e. Sosial
Ekonomi
Status
sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang
diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi perilaku seseorang.
Perkembangan
individu akan ditentukan oleh faktor pembawaan (dasar)
atau faktor endogen, maupun factor keadaan (lingkungan)
atau factor eksogen.
Faktor
Endogen merupakan faktor yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga
kelahiran. Jadi faktor endogen bisa juga disebut sebagai faktor keturunan atau
faktor pembawaan. Faktor endogen yang dibawa oleh individu
mempunyai sifat-sifat seperti orang tuanya. Sewaktu individu lahir telah ada
sifat-sifat tertentu dalam dirinya terutama sifat-sifat yang
berhubungan dengan Faktor Kejasmanian, misalnya bagaimana kulitnya apakah
hitam,putih, atau coklat. Bagaimana keadaan rambutnya. Sifat ini merupakan
sifat yang mereka dapatkan karena faktor keturunan. Disamping itu individu juga
punya sifat-sifat pembawaan psikologis yang erat hubungannya dengan keadaan
jasmani yaitu tempramen.
Tempramen
merupakan sifat pembawaan yang hubungannya erat dengan struktur kejasmanian
seseorang, yaitu yang berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologis seperti
darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain yang terdapat dalam diri manusia.
Kepercayaan dan Keyakinan
Dilihat dari segi bahasa, keyakinan
berasal dari kata yaqin yang artinya percaya sungguh-sungguh.
Kepercayaan berbeda dengan keyakinan. Keyakinan dan keimanan berada di atas
istilah kepercayaan. Dan keyakinan ekuivalen dengan keimanan. Kepercayaan
menerima dengan budi (ratio) dan keyakinan menerima dengan akal.
Dalam kehidupan, manusia mempunyai
banyak keyakinan atas suatu hal. Dengan keyakinannya inilah, kemudian manusia
bertindak sebagai makhluk budaya. Keyakinan yang dimiliki manusia bisa berwujud
bermacam-macam. Dalam hal agama, keyakinan itu berarti menyakini secara pasti
dan benar bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta. Dalam bidang kehidupan manusia
menggunakan keyakinan sebagai cara dalam menempuh kehidupan. Tanpa keyakinan
kehidupanakan diliputi oleh bimbang.
Langkah-Langkah Pandangan Hidup yang Baik
Setiap manusia pasti mempunyai
pandangan hidup apapun dan bagaimanapun itu untuk dapat mencapai dan berhasil
dalam kehidupan yang diinginkannya. Tetapi apapun itu, yang terpenting adalah
memiliki pandangan hidup yang baik agar dapat mencapai tujuan dan cita-cita
dengan baik pula. Adapun langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yakni:
· Mengenal
Mengenal merupakan suatu kodrat bagi
manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam
jal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita yakin dan sadar bahwa
setiap manusia itu pasti mempunyai pandangan hidup, maka kita dapat memastikan
bahwa pandangan hidup itu ada sejak manusia itu ada, dan bahkan hidup itu ada
sebelum manusia itu belum turun ke dunia
· Mengerti
Tahap kedua untuk berpandangan hidup
yang baik adalah mengerti. Mengerti disini dimaksudkan mengerti terhadap
pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara kita berpandangan pada
Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya mengerti
apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bemegara. Begitu juga bagi yang
berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Qur’an,
Hadist dan ijmak itu dan bagaimana ketiganya itu mengatur kehidupan baik di
dunia maupun di akhirat.
· Menghayati
Langkah selanjutnya setelah mengerti
pandangan hidup adalah menghayati pandangan hidup itu. Dengan menghayati
pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengenai
kebenaran pandangan hdiup itu sendiri.
Menghayati disini dapat diibaratkan
menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu dengan memperluas dan
mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri. Langkah-langkah
yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini, menganalisa hal-hal yang
berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada orang yang dianggap lebih
tahu dan lebih berpengalaman mengenai isi pandangan hidup itu atau mengenai
pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan menghayati pandangan hidup kita akan
memperoleh mengenai kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.
· Meyakini
Setelah mengetahui kebenaran dan
validitas, baik secara kemanusiaan, maupun ditinjau dari segi kemasyarakatan
maupun negara dan dari kehidupan di akherat, maka hendaknya kita meyakini
pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini ini merupakan suatu hal
untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan
hidupnya.
· Mengabdi
Pengabdian merupakan sesuatu hal yang
penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan
diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka
kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan manfaat mengabdi ini dapat
dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu sendiri bisa terwujud di
masa masih hidup dan atau sesudah meninggal yaitu di alam akhirat.
Referensi :
https://10menit.wordpress.com/tugas-kuliah/ilmu-budaya-dasar-manusia-dan-pandangan-hidup-bab8/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar