Percobaan Indera Pendengaran dan Keseimbangan
Pada kesempatan kali ini, saya mau berbagi hasil percobaan indera pendengaran tentang percobaan rine, tempat sumber bunyi, pemeriksaan ketajaman pendengaran, dan keseimbangan yang saya lakukan. Yuk baca, simak sekaligus pelajari tambah-tambah wawasan ;)
I. Percobaan : Indera Pendengaran (Penghantar
aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1. Nama Percobaan : Percobaan Rine
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan bahwa transmisi
melalui udara lebih baik daripada tulang.
b. Dasar Teori : Pitch dan Loudnes. Suara yang dibedakan
tekanannya berkolerasi dengan gelombang sinus. Suara semacam itu disebut nada murni (pure tone). Siklus gelombang menuju kompresi dan ekspansi udara seperti suara geombang yang selalu bergerak. Kedua karakteristik utama gelombang seperti itu adalah frekuensi dan amplitudo. Frekuensi diukur dengan jumlah getaran perdetik; yaitu beberapa kali perdetik sampai siklus gelombang suara diulang. Unit Hertz (singkatan Hz) digunakan untuk menunjukkan siklus perdetik; yaitu suatu siklus perdetik sama dengan satu Hz. Amplitudo berhubungan dengan jumlah kompresi dan ekspansi udara, seperti digambarkan oleh panjangnya gelombang dimulai dari puncak sampai dasar kurva. Frekuensi gelombang suara pada dasarnya merupakan penyebab dari apa yang kita alami sebagai pitch (tingkatan nada). Namun pitch sebuah nada dapat juga dipengaruhi oleh intensitas. Jadi, 'pitch' pun hanya terkait pada satu atribusi fisik stimulus. Demikian pula, 'loudness' (kerasnya suara) berkolerasi dengan kuat pada amplitudo gelombang atau intensitas suara. Namun demikian, gelombang suara berfrekuensi rendah yang mempunyai amplitudo sama dengan suara berfrekuensi tinggi tidak selalu menghasilkan suara yang sama keras. Manusia dapat mendengar frekuensi anrata 20- 20.000 Hz. Hal diatas dapat kita buktikan pada bunyi piano yang menghasilkan frekuensi dari lebih kurang 27 sampai 4.200 Hz. Tida semua species dapat mendengar dengan rentang frekuensi yang sama, sebagai contoh peluit untuk memanggil anjing yang menggunakan nada terlalu tinggi frekuensinya bagi telinga kita. Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Di telinga tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis; adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar.
Aerotymponal adalah penghantar suara melalui udara, sedangkan Craniotymponal adalah penghantar suara melalui tulang. Pada orang tua elastisitas membran thympani berkurang, sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan baik. Membran thmpani menghantarkan maleus, incus, stapes sehingga terdengar suara.
c. Alat yang Digunakan : Garputala
d. Jalannya Percobaan : 1.1 Garputala dipukulkan sehingga
menghasilkan getaran dan suara.
Kemudian posisikan garputala tersebut
lurus di atas kepala (diatas kepala,
tidak menempel dengan kepala). Jika
getarannya sudah tidak terasa,
posisikan garputala ke depan lubang
telinga. Dengarkan suara dari garputala
tersebut, apakah masih menghasilkan
suara atau tidak, lalu catat hasilnya.
1.2 Garputala dipukulkan sehingga
menghasilkan suara dan getaran,
kemudian posisikan garputala tersebut
di bagian belakang lalu depan telinga.
Dengarkan apakah garputala masih
menghasilkan suara atau tidak. Catat
hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Percobaan : Suara garputala tidak terdengar ketika
diposisikan di atas kepala, tetapi suaranya masih terdengar saat garputala diposisikan di depan lubang telinga.
Suara garputala terdengar jelas saat
garputala yang baru dipukulkan
diposisikan di samping lubang telinga.
1.2 Hasil Sebenarnya : 1. Suara nada garputala sudah tidak
terdengar ketika diletakkan di puncak kepala. Masih tetap terdengar ketika garputala itu ditempatkan di depan lubang telinga.
2. Suaranya dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Semakin besar garputala, maka
semakin berat suaranya.
3. Jika garputala dan telinga disejajarkan,
maka akan bagus.
4. Pada orang tua, relastisitas membran
timpani kurang berfungsi dengan baik.
5. Membran timpani menggetarkan meileus
incus stapes sehingga terdengar suara.
f. Kesimpulan : 1. Ketika nada garpu tala tidak terdengar
lagi dipuncak kepala, tetapi ketika diletakkan dilubang telinga nada suara masih terdengar.
2. Ketika nada suara garputala tidak terlalu
tedengar lagi dibelakang telinga, tetapi
ketika diletakkan di depan lubang
telinga nada masih terdengar.
3. Semakin besar garpu tala makin berat
suara garputala sejajar maka hantaran
suaranya bagus.
g. Daftar Pustaka : Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard,
E.R. (1983). Pengantar psikologi.
Jakarta: Erlangga.
Guyton, H. (1997). Fisiologi
kedokteran. Jakarta: CV.EGC.
Miyoso, D.P,. Mewengkang, L.N. (2010).
Diagnosis kekurangan pendengaran. Jakarta: PT. Gramedia.
II. Percobaan : Indera Pendengaran
2. Nama Percobaan : Tempat Sumber Bunyi
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk menentukan sumber bunyi.
b. Dasar Teori : Telinga adalah organ penginderaan dengan
fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.
Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran, yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)).
c. Alat yang Digunakan : Pipa karet.
d. Jalannya Percobaan : Objek diminta untuk memposisikan ujung
pipa karet di telinga kanan dan ujung pipa karet lainnya di telinga kiri. Kemudian peneliti akan menekan pipa pada bagian tertentu (kanan, kiri atau tengah). Praktikan akan menjawab sesuai pendengarannya. Berapa yang bisa dijawab dengan benar, lalu catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : 3/3. Saya berhasil menjawab semua (tiga)
letak bunyi yang diberikan penguji kepada saya dengan benar.
1.2 Hasil Sebenarnya : Subjek masih dapat membedakan suara
pipa kiri dan kanan dianggap normal,
namun suara tengah sedikit sulit.
f. Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa objek
masih bisa membedakan bunyi kanan dan kiri saat percobaan menggunakan pipa karet masih normal. Untuk membedakan bunyi pada bagian tengah memang cukup sulit. Namun objek dapat menjawab semua dengan baik dan benar.
g. Daftar Pustaka : Evelyn, P. (2000). Anatomi dan
fisiologi untuk paramedis. Jakarta:
PT.Gramedia.
Guyton, H. (1997). Fisiologi
kedokteran. Jakarta: CV.EGC.
Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N. (2010).
Diagnosis kekurangan pendengaran. Jakarta: PT. Gramedia.
III. Percobaan : Indera Pendengaran
3. Nama Percobaan : Pemeriksaan Ketajaman Pendengaran
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk memeriksa ketajaman pendengaran.
b. Dasar Teori : Loundness (kekerasan suara) dan beberapa
suara yang sudah dikenal diskalakan dalam decibel. Lepas landasnya roket Saturn V ke bulan yang diukur pada alas peluncurannya kurang lebih 180 db. Untuk ikus- tikus percobaan, skala suara 150 db dalam waktu yang cukup lama menyebabkan kematian. Bahkan band-band rock dapat menimbulkan bunyi dengan 120 db atau lebih yang menyebebkan kerusakan pendengaran permanen.
Aerotymponal adalah penghantar suara melalui udara, sedangkan Craniotymponal adalah penghantar suara melalui tulang. Pada orang tua elastisitas membran thympani berkurang, sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan baik. Membran thmpani menghantarkan maleus, incus, stapes sehingga terdengar suara.
Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna, sangat luas. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan, namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi, biasanya di atas 120 dB. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi), cara yang digunakan untuk Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 24 mendengar suara tersebut ( melalui earphone, pengeras suara, dsb), dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga, di udara terbuka, dsb). Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal, diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan, karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut, maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat; dengan kata lain, pendengaran orang tersebut berkurang. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat, maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik.
Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara, dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz, 2). Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band, 3). Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar.
c. Alat yang Digunakan : Arloji/jam, dan meteran.
d. Jalannya Percobaan : Arloji/jam di posisikan di dekat telinga.
Kemudian jauhkan jam tersebut dari telinga secara perlahan. Semakin lama semakin menjauh. Katakan “stop” jika suara detik jam tidak dapat terdengar lagi oleh telinga. Ukur berapa jarak dari jam tersebut berhenti dengan telinga kita. Lakukan kegiatan ini pada telinga kanan dan kiri. Lalu catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : 34 cm untuk telinga kanan, dan 34 cm
untuk telinga kiri.
1.2 Hasil Sebenarnya : Sangat dipengaruhi oleh kebisingan.
Biasanya diatas rata-rata 50 cm. Telinga
kanan dapat mendengar lebih jauh dari
telinga kiri. Hal ini pengaruhnya pada otak
kanan dan otak kiri.
f. Kesimpulan : Telinga kanan maupun kiri mempunyai
ketajaman pendengaran yang berbeda dan
banyak faktor yang mempengaruhi hal
tersebut. Telinga kanan mampu mendengar
hingga jarak 34 cm dan telinga kiri 34 cm.
Dan hal ini disebabkan karena adanya
kebisingan dalam ruang praktikum.
g. Daftar Pustaka : Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard,
E.R. (1983). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga.
Evelyn, C. (2000). Anatomi dan
fisiologi untuk paramedis. Jakarta:
PT.Gramedia.
Guyton, H. (1997). Fisiologi
kedokteran. Jakarta: CV.EGC.
IV. Percobaan : Keseimbangan
4. Nama Percobaan : Kedudukan kepala dan mata normal
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk memahami bahwa cairan endolimph
dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang terganggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala; melihat adanya nistagmus.
b. Dasar Teori : Kemampuan tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan dan kestabilan postur olehaktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan sistem regulasi yangberperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan adalah menyanggah tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar seimbang dengan bidang tumpu, sertamenstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak. keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural.
Sebagian besar masukan (input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menujuke korteks serebri melalui lemniskus medialis dan talamus.Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung padaimpuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. Impuls dari alat indra ini darireseptor raba di kulit dan jaringan lain , serta otot di proses di korteks menjadi kesadaranakan posisi tubuh dalam ruang.Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk menjaga pusatmassa tubuh (center of body mass) dalam keadaan stabil dengan batas bidang tumpu tidak berubah kecuali tubuh membentuk batas bidang tumpu lain. Bagianvestibular berfungsi sebagai pemberi informasi gerakan dan posisi kepala ke susunan saraf pusat untuk respon sikap dan memberi keputusan tentang perbedaan gambaran visual dangerak yang sebenarnya. Masukan (input) proprioseptor pada sendi, tendon dan otot dari kulitdi telapak kaki juga merupakan hal penting untuk mengatur keseimbangan saat berdiri staticmaupun dinamik. Central processing berfungsi untuk memetakan lokasi titik gravitasi, menata responsikap, serta mengorganisasikan respon dengan sensorimotor.
c. Alat yang Digunakan : Individu (tidak menggunakan alat)
d. Jalannya Percobaan : Pertama, berdiri dengan posisi tegak.
Kemudian jalan lurus ke depan. Setelah mencapai ke sisi seberang, balik kanan dan kepala objek dihentakkan ke kanan. Lalu jalan kembali seperti tadi, balik kanan dan segera hentakkan kepala ke kiri. Rasakan apa yang terjadi dan catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Saya dapat berjalan lurus ke depan saat
berjalan pertama. Dan setelah putar balik serta kepala dihentakkan ke kanan kemudian ke kiri, kepala saya merasa pusing tetapi masih bisa berjalan dengan lurus ke depan tanpa mengalami kesulitan atau gangguan keseimbangan.
1.2 Hasil Sebenarnya : 1. Dalam sikap tubuh biasa, praktikan
dapat berjalan lurus atau tidak mengalami kesulitan.
2. Dalam sikap tubuh dengan muka
f. Kesimpulan : Keseimbangan adalah kemampuan untuk
mempertahankan orientasi tubuh dan bagian- bagiannya dalam hubungannyag dengan ruang internal. Keseimbangan tergantung pada continous visual, labirintin, dan input somatosensorius (proprioceptif) dan integrasinya dalam batang otak dan serebelum. Kesulitan berjalan lurus biasa dialami, hal ini dikarenakan cairan endolimph dan perilimph terganggu atau bergejolak. Dan pada saat percobaan kedua tidak terlalu kesulitan berjalan, karena cairan endolimph dan perilimph-nya normal kembali. Jika di putar kedua lebih pusing, maka cairan endolimp dan perilimph baru bekerja.
g. Daftar Pustaka : John, P. (2009). Biopsychology.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal.
Depok: Gunadarma.
Syamsuri, I. (2007). Biologi. Jakarta:
Erlangga.
V. Percobaan : Keseimbangan
5. Nama Percobaan : Kanalis Semisirkularis Horizontalis
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk memahami bahwa cairan endolimph
dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang terganggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala; melihat adanya nistagmus.
b. Dasar Teori : Gangguan keseimbangan dapat diakibatkan
oleh gangguan yang mempengaruhi vestibular pathway, serebelum atau sensory pathway pada medula spinalis atau nervus perifer.Gangguan keseimbangan dapat menimbulkan satu atau keduanya dari dua tanda kardinal: vertigo – suatu ilusi tubuh atau pergerakan lingkungan, atau ataxia – inkoordinasi tungkai atau langkah.
Pendekatan diagnosis. Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan orientasi tubuh dan bagian- bagiannya dalam hubungannyag dengan ruang internal. Keseimbangan tergantung pada continous visual, labirintin, dan input somatosensorius (proprioceptif) dan integrasinya dalam batang otak dan serebelum.
Kanalis Semisirkularis. Terdapat 3 buah kanalis semisirkularis : superior, posterior dan lateral yang membentuk sudut 90° satu sama lain. Masing-masing kanal membentuk 2/3 lingkaran, berdiameter antara 0,8 – 1,0 mm dan membesar hampir dua kali lipat pada bagian ampula. Pada vestibulum terdapat 5 muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posterior bersatu membentuk krus kommune sebelum memasuki vestibulum.
Berdiri. Pasien ataksia yang diminta berdiri dengan kedua kaki bersamaan dapat memperlihatkan keengganan atau ketidak mampuan untuk melakukannya. Dengan desakan persisten, pasien secara berangsur-angsur bergerak dengan kaki saling medekat tapi akan meninggalkan ruang antar keduanya. Pasien dengan ataksia sensorik dan beberapa dengan ataksia vesetibular, meskipun pada akhirnya mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya, kompensasi terhadap kehilangan satu sumber input sensorius (proprioceptif atau labyrintin) dengan yang mekanisme lain (yaitu visual).
Melangkah. Langkah terlihat dalam ataksia serebelar dengan dasar-luas, sering dengan keadaan terhuyung-huyung dan dapat diduga sedang mabuk. Osilasi kepala dan trunkus (titubasi) dapat juga ada. Jika lesi hemisfer serebelar unilateral yang bertanggung jawab, maka kecenderungan yang terjadi adalah deviasi kearah sisi lesi saat pasien mencoba untuk berjalan pada garis lurus atau lingkaran atau berbaris pada tempat dengan mata tertutup.
c. Alat yang Digunakan : Individu (tidak menggunakan alat)
d. Jalannya Percobaan : Objek diminta untuk menundukkan kepala
hingga menyentuh dagu. Kemudian objek
diputar sebanyak lima kali (untuk praktikan
laki-laki) dan tiga kali (untuk praktikan
perempuan). Setelah diputar, objek berjalan
ke sisi seberang.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu :1. Pada saat pertama objek dapat berjalan
lurus tanpa kehilangan keseimbangan.
2. Pada saat kedua kalinya, objek tetap
dapat berjalan lurus tanpa kehilangan keseimbangan.
kesulitan untuk berjalan lurus, karena
cairan endolimph atau perilimph terganggu
atau bergejolak.
mengalami kesulitan untuk berjalan lurus
seperti percobaan 1, karena cairan
endolimph dan perilimph normal kembali.
f. Kesimpulan : Apabila cairan endolimph dan perilimph
terganggu atau bergejolak maka kita akan
kesulitan untuk berjalan lurus.
g. Daftar Pustaka : Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard,
E.R. (1983). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga.
John, P. (2009). Biopsychology.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal.
Depok: Gunadarma.
VI. Percobaan : Keseimbangan
6. Nama Percobaan : Nistagmus
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk memahami bahwa cairan endolimph
dan perilimph yang terdapat pada telinga
bila bergejolak (goyang) akan
menyebabkan keseimbangan seseorang
terganggu; memahami bahwa
keseimbangan yang terganggu mudah
dikembalikan seperti sediakala; melihat
adanya nistagmus.
b. Dasar Teori : Nistagmus adalah suatu gejala yang timbul
akibat keseimbangan dalam telinga
terganggu sehingga menyebabkan
pandangan menjadi berkunang-kunang
(pandangan kabur) dan kepala menjadi
pusing.
Telinga dibagi menjadi 3 bagian :Bagian
luar :Daun telinga, Cuping telinga, Liang
telinga,Membrane Thympani.Bagian tengah
:MIS (Maleus Incus Stapes) / MALAS
(Martil Landasan Sangurdi)
Pada telinga bagian dalam terdapat 2
ruangan yang berhubungan satu dengan
yang lainnya, ruanan tersebut idak teratur
disebut Labyrinth, ada 2 yaitu :
Labyrinth Osseus (dinding tulang) terdiri
dari serambi (Vertibulum, saluran gelung
(Kanalis Semisirkularis), dan rumah siput
(Cochlea).
Labyrinth Membranicus (membran), terdiri
dari :Sacula Orticula, 3 buah saluran
gelung
dan rumah siput yang merupakan bagian-
bagian yang berhubungan dengan Sacula
Donatricula (saraf kedelapan, saraf
kranial).
Bagian dari alat vestibulum atau alat
keseimbangan berupa tiga saluran
setengah
lingkaran yang dilengkapi dengan organ
ampula (kristal) dan organ keseimbangan
yang ada di dalam utrikulus clan sakulus.
Ujung dari setup saluran setengah
lingkaran
membesar dan disebut ampula yang berisi
reseptor, sedangkan pangkalnya
berhubungan dengan utrikulus yang
menuju ke sakulus.Utrikulus maupun
sakulus berisi reseptor keseimbangan.Alat
keseimbangan yang ada di dalam ampula
terdiri dari kelompok sel saraf sensori
yang mempunyai rambut dalam tudung
gelatin yang
berbentuk kubah.Alat ini disebut
kupula.Saluran semisirkular (saluran
setengah lingkaran) peka terhadap gerakan
kepala.
Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan
sakulus terdiri dari sekelompok sel saraf
yang ujungnya berupa rambut bebas yang
melekat pada otolith, yaitu butiran natrium
karbonat. Posisi kepala mengakibatkan
desakan otolith pada rambut yang
menimbulkan impuls yang akan dikirim ke
otak.
c. Alat yang Digunakan : Individu (tidak menggunakan alat)
d. Jalannya Percobaan : Objek diminta untuk memegang telinga
dengan tangan kanan dan menyentuh
lututnya dengan tangan kiri, seperti posisi
rukuk. Kemudian objek diputar sebanyak 5
kali. Setelah itu objek diminta mengganti
posisi tangannya, yaitu tangan kanan
menyentuh lutut dan tangan kiri memegang
telinga. Perhatikan dan rasakan, catat
hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Objek merasa pusing saat putaran pertama.
Namun objek merasa kepalanya lebih
pusing saat putaran kedua.
1.2 Hasil Sebenarnya : 1. Biasanya pandangan terjadi kabur atau
berkunang-kunang.
2. Apa yang dilihat menjadi berputar-putar.
f. Kesimpulan : Salah satu cara untuk menguji
keseimbangan, praktikan diminta berposisi
rukuk dengan tangan kanan memegang telinga dan tangan kiri memegang lutut, yang kemudian diputar lima kali serta sebaliknya.
Telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Bagian luar: Daun telinga, cuping telinga, liang telinga, dan membran thympany.
b. Bagian tengah: Terdiri dari tulang-tulang pendengaran, yaitu: Maleus, Incus, dan Stapes. (MIS).
c. Bagian dalam: Rumah siput (chochlea). Terdapat 2 cairan, yaitu: endolimph dan perilimph yang membuat kita seimbang saat berjalan.
g. Daftar Pustaka : John, P. (2009). Biopsychology.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Puspitawati, I. (1998). Psikologi faal.
Depok: Gunadarma.
Syamsuri, I. (2007). Biologi. Jakarta: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar