Percobaan Indera Penglihatan II
Pada kesempatan kali ini, saya mau berbagi hasil percobaan indera penglihatan kedua tentang buta warna, bintik noda buta, maxwell, horizontal lines parallel, black dots, dan lingkaran sama atau beda yang saya lakukan. Yuk baca, simak sekaligus pelajari tambah-tambah wawasan ;)
I. Percobaan : Indera Penglihatan II
1. Nama Percobaan : Buta Warna
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui apakah seseorang
menderita buta warna atau tidak.
b. Dasar Teori : Buta warna (colour blind) adalah kelainan
pada seseorang yang tidak dapat
membedakan warna. Buta warna
merupakan salah satu penyakit turunan
yang diwariskan melalui gonosom
(kromosom seks) sehingga penyakit
tersebut terpaut seks (sex linkage). Penyakit
buta warna juga merupakan penyakit
bawaan yang dibawa sejak lahir. Tidak ada
orang yang mengalami kelainan buta warna
setelah dewasa. Terdapat dua golongan
buta warna pada manusia, yaitu buta warna
parsial (sebagian) dan buta warna total.
Buta warna parsial terjadi apabila
seseorang tidak dapat membedakan warna-
warna tertentu saja, misalnya buta warna
merah atau buta warna hijau. Buta warna
total terjadi apabila seseorang tidak dapat
membedakan semua jenis warna sehingga
semua yang terlihat tampak berwarna hitam
dan putih.
Kelainan ini dikendalikan oleh gen cb
(colour blind) yang berada pada kromosom X dan bersifat resesif. Buta warna
merupakan penyakit genetis akibat
rusaknya sel kerucut pada retina. Akan
tetapi, pada umumnya kelainan ini
disebabkan oleh faktor keturunan. Sifat
buta warna hanya terpaut pada kromosom
X. Sehingga jika seorang laki-laki memiliki
alel resesif pada kromosom X-nya, maka
laki-laki ini akan menderita buta warna.
Namun bila seorang perempuan memiliki
alel resesif buta warna, pada salah satu
kromosom X-nya, maka perempuan ini
hanya bersifat sebagai pembawa sifat
(carrier). Sedangkan bila kedua kromosom
X-nya mengandung alel resesif buta warna,
maka sifat resesif buta warna akan terlihat
dan perempuan tersebut akan menderita
buta warna.
Putri seorang penderita buta warna boleh
jadi tidak buta warna tetapi dia pembawa
sifat buta warna sehingga cucu laki-lakinya akan memiliki peluang besar untuk
menderita buta warna. Buta warna yang
diturunkan tidak dapat diobati, tetapi
kelainan ini tidak akan mengganggu
ketajaman penglihatan.
c. Alat yang Digunakan : Kartu/buku uji stilling isihara
d. Jalannya Percobaan : Percobaan ini dilakukan melalui komputer.
Pada layar komputer akan muncul 20
gambar yang di dalamnya terdapat berbagai
macam warna dan bentuk. Praktikan harus
memperhatikan gambar tersebut satu demi
satu kemudian menjawabnya sesuai
penglihatan. Jika sudah dijawab semua,
maka praktikan dapat mengetahui hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Times Taken = 3 mins 7 secs
Marks = 16/20
Grade = 8 out of a max of 10 (80%)
1.2 Hasil Sebenarnya : Tidak ada hasil sebenarnya.
f. Kesimpulan : Mata yang normal akan dapat melihat dan
membedakan gambar, bentuk, maupun
warna dengan baik. Mata yang tidak dapat
membedakan warna disebut buta warna.
Ada buta warna total dan buta warna
parsial (sebagian). Buta warna hanya
terjadi pada kromosom X, karena adanya
kerusakan pada sel kerucut pada mata, atau
yang paling sering ialah karena faktor
genetis. Berdasarkan data diatas dapat
disimpulkan praktikan memiliki mata yang
normal dan tidak menderita buta warna.
g. Daftar Pustaka : Ferdinand, F., Ariebowo, M. (2007).
Praktis belajar biologi. Jakarta: Visindo Media Persada.
Firmansyah, R., Mawardi, A., Umar, M. (2007). Mudah dan aktif belajar biologi. Bandung: PT Setia Purna.
Hutapea, A. (2006). Keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, B. (2007). Biologi. Jakarta: Interplus.
II. Percobaan : Indera Penglihatan II
2. Nama Percobaan : Bintik Noda Buta
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui jarak (dalam cm) bintik
noda buta seseorang serta menentukan
letak proyeksi bintik buta.
b. Dasar Teori : Noda buta adalah suatu titik dimana akson-
akson meninggalkan mata sehingga tidak
ada reseptor. Bintik buta yaitu tidak adanya
sel batang atau sel kerucut yang peka
terhadap cahaya. Bintik buta ada di
seberang bintik kuning (fovea nasalis). Bintik buta adalah tempat bertemunya
syaraf dengan retina. Bintik buta adalah
area kecil di mata yang tidak memiliki
syaraf penglihatan, jadi gambar yang jatuh
di bintik buta tidak akan terlihat.
c. Alat yang Digunakan : Kertas hitam dengan tanda lingkaran dan
tanda plus berwarna putih dan capimeter.
d. Jalannya Percobaan : Pertama, kita tutup sebelah mata (kanan atau kiri) dengan tangan kita, lalu kita
pegang kertas hitam dengan tanda
lingkaran dan tanda plus “+” di hadapan
kita. Lalu fokuskan mata pada gambar
lingkaran tersebut, setelah itu dekatkan
secara perlahan lahan sampai tanda plus
“+” nya itu menghilang atau sudah tidak
terlihat, hentikan kemudian ukur. Lalu
lanjutkan sampai tanda plus terlihat
kembali, kemudian hentikan lagi lalu ukur
dengan alat ukur. Lakukan hal yang sama
dengan memfokuskan mata pada tanda plus
dan lingkaran yang akan menghilang dan
terlihat kembali.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : 1. Pada mata kiri, pada jarak 36 cm gambar
terlihat menghilang, dan pada jarak 24 cm
gambar terlihat kembali.
2. Pada mata kanan, pada jarak 26 cm
gambar terlihat menghilang, dan pada
jarak 19 cm gambar terlihat kembali.
1.2 Hasil Sebenarnya : Tidak ada hasil sebenarnya.
f. Kesimpulan : Gambar yang jatuh di bintik buta tidak
akan terlihat, karena dalam bintik buta
tidak terdapat sel syaraf penglihatan. Bintik
buta terjadi karena sel batang atau sel
kerucut yang tidak peka terhadap
cahaya dan akson-akson meninggalkan
mata sehingga tidak adanya reseptor.
g. Daftar Pustaka : Ebook Gunadarma
Hutapea, A. (2006). Keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, B. (2007). Biologi. Jakarta: Interplus.
Yunita, P. (2011). Organ tubuh manusia mata. Jakarta: PT Gramedia.
III. Percobaan : Indera Penglihatan II
3. Nama Percobaan : Maxwell
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan adanya kelambatan
(delay) retina; Terjadinya pencampuran
warna secara objektif serta kontras yang
simultan.
b. Dasar Teori : Retina atau selaput jala merupakan bagian
mata yang mengandung reseptor yang
menerima rangsangan cahaya. Retina juga
mengubah cahaya menjadi sinyal saraf.
Retina memiliki sel fotoreseptor (rode dan
cone) yang menerima cahaya, sinyal yang
dihasilkan kemudian mengalami proses
rumit yang dilakukan oleh neuron retina
yang lain dan diubah menjadi potensial aksi
pada sel ganglion retina. Retina tidak
hanya mendeteksi cahaya, melainkan juga
memainkan peran penting dalam persepsi
Visual.
Kelambatan dari retina disebabkan oleh
stimulasi cahaya yang berturut-turut
dengan jarak antar stimulasi yang sangat
dekat, menimbulkan penglihatan cahaya
yang berkedip-kedip. Frekuensi minimal
dimana penghantaran cahaya berkedip-
kedip menjadi penglihatan cahaya yang
terus menerus disebut frekuensi fusi.
Seseorang dapat mendeteksi semua gradasi
warna apabila cahaya monokromatik, yaitu
merah, hijaum dan biru dicampur dengan
tepat dalam berbagai kondisi. Pencampuran
warna dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
pencampuran warna adisi kan pencampuran
warna substraksi.
Alat untuk melihat warna putih dari
spektrum ialah maxwell, yaitu berupa
lingkaran karton yang diputar. Apabila dua
warna atau lebih diputar dengan cepat,
maka akan membentuk warna putih,
campuran warna yang demikian disebut
pencampuran adisi, artinya penambahan.
Sedangkan campuran yang lain, misalnya
pada cat disebut substraksi, artinya
Pengurangan.
Pada campuran adisi dengan alat Maxwell,
misalnya warna-warna biru dan kurang
diputar dengan cepat, maka sebagai
hasilnya ialah warna putih, karena dua
warna biru dan kuning adalah warna yang
komplementer. Jadi kedua warna itu
dipantulkan, sehingga hasilnya adalah
warna putih. Warna-warna lain yang
komplementer ialah nila-kuning, merah-
hijau, kebiru-biruan, jingga-biru.
Selain pencampuran adisional dan dua
warna yang komplementer yang dapat
menghasilkan warna putih, dapat pula
pencampuran dari tiga warna yang juga
secara adisional menghasilkan warna putih
dan hal inilah yang disebut sebagai warna-
warna pokok atau warna dasar.
c. Alat yang Digunakan : Komputer
(http://remotelap.fpsi.gunadarma.ac.id/psi)
d. Jalannya Percobaan : Percobaan ini dilakukan melalui komputer.
Pada layar komputer akan muncul 5
gambar satu persatu dengan berbagai warna
yang akan berputar semakin lama semakin
cepat sehingga menghasilkan pencampuran
warna. Praktikan akan menjawab warna
apa yang terbentuk dari pencampuran
berbagai warna tersebut sesuai
penglihatannya. Setelah selesai, praktikan
dapat mengetahui hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Times taken = 3 mins 5 secs
Marks = 1/5
Grade = 2 out of a max of 10 (20%)
1.2 Hasil Sebenarnya : Tidak ada hasil sebenarnya.
f. Kesimpulan : Mata mempunyai perbandingan dengan
melihat warna, beberapa warna yang
digabung dan diputar cepat akan
menimbulkan warna baru. Kemudian retina
mempunyai kelambatan dalam melihat
sehingga terjadi perubahan pada objek
yang dilihat.
g. Daftar Pustaka : Fudaryanto, K. (2011). Psikologi umum 1 & 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Ilyas, S. (2010). Ilmu penyakit mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pinel, J. (2009). Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
IV. Percobaan : Indera Penglihatan II
4. Nama Percobaan : Horizontal Lines Parallel
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui bahwa balok-balok
yang terlihat tidak sejajar sebenarnya sama
Lebarnya.
b. Dasar Teori : Retina adalah lapisan yang membuat
manusia bisa melihat. Lapisan retina
sangatlah lembut, sensitif, dan dipenuhi sel
syaraf. Fungsi retina adalah menangkap
cahaya yang masuk, mengubah cahaya
tersebut menjadi gambar, lalu
mengubahnya lagi menjadi sinyal
elektronik untuk dikirimkan ke otak supaya
kita bisa melihatnya.
Macula terletak di retina. Warnanya kuning
dan lebarnya hanya 5 cm. Di area Macula terdapat Fovea dan Bintik Buta. Fovea fungsinya menajamkan gambar yang dilihat mata. Fovea paling membantu jika kita sedang membaca, menonton televisi atau menyetir.
Objek yang kita lihat tentunya memiliki
ukuran yang sama ataupun beda, dan
semua benda yang kita lihat awalnya
berdasarkan persepsi contours yang artinya
bahwa persepsi visual manusia lebih baik
dari kenyataan fisiknya dan melalui
persepsi visual lah manusia akan cenderung
menginterpretasikan sesuatu yang
sebenarnya tidak ada.
c. Alat yang Digunakan : Kertas bergambar balok-balok.
d. Jalannya Percobaan : Praktikan diperintahkan untuk melihat
kertas yang bergambar balok-balok di
dalamnya. Gambar tersebut tersusun tidak
sejajar. Perhatikan dan amati dengan
cermat. Kemudian catat hasilnya sesuai
penglihatan, apakah balok-balok yang tidak
sejajar tersebut berukuran sama besar atau
tidak.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Menurut penglihatan mata saya, balok-
balok pada kertas bergambar tersebut
memiliki ukuran lebar yang sama.
1.2 Hasil Sebenarnya : Balok-balok tersebut lebarnya sama.
f. Kesimpulan : Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa
mata praktikan melihat dengan berdasarkan
persepsi contours yang artinya persepsi
visual manusia lebih baik daripada
kenyataan fisiknya dan mata praktikan
tidak terpengaruh terhadap objek yang
mengganggu persepsi praktikan dalam
melihat suatu objek.
g. Daftar Pustaka : Hutapea, A. (2006). Keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
John, P. (2009). Biopsychology.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Plotnik, R. (2005). Introduction to
psychology. Auatralia: Thomson &
Wodsworth.
Yunita, P. (2011). Organ tubuh manusia mata. Jakarta: PT Gramedia.
V. Percobaan : Indera Penglihatan II
5. Nama Percobaan : Black Dots
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan berapa banyak bulatan hitam yang dapat dilihat dari bulatan-bulatan putih yang terletak di sudut kotak hitam.
b. Dasar Teori : Retina atau selaput jala merupakan bagian
mata yang mengandung reseptor yang
menerima rangsangan cahaya. Retina juga
mengubah cahaya menjadi sinyal saraf.
Retina memiliki sel fotoreseptor (rode dan
cone) yang menerima cahaya, sinyal yang
dihasilkan kemudian mengalami proses
rumit yang dilakukan oleh neuron retina
yang lain dan diubah menjadi potensial aksi
pada sel ganglion retina. Retina tidak
hanya mendeteksi cahaya, melainkan juga
memainkan peran penting dalam persepsi
Visual.
Kelambatan dari retina disebabkan oleh
stimulasi cahaya yang berturut-turut
dengan jarak antar stimulasi yang sangat
dekat, menimbulkan penglihatan cahaya
yang berkedip-kedip. Frekuensi minimal
dimana penghantaran cahaya berkedip-
kedip menjadi penglihatan cahaya yang
terus menerus disebut frekuensi fusi.
c. Alat yang Digunakan : Kertas bergambar kotak-kotak hitam dan
bulatan putih di tiap sudut.
d. Jalannya Percobaan : Mata praktikan diperintahkan untuk
melihat ke sebuah kertas yang bergambar
kotak-kotak hitam berisikan bulatan-
bulatan putih ditiap sudut. Perhatikan
apakah akan muncul bulatan hitam di
dalam bulatan
putih. Jika iya, hitunglah berapa jumlah
bulatan-bulatan hitam yang muncul
tersebut. Catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Saya melihat ada banyak bulatan-bulatan
hitam mucul terlihat yang tidak dapat saya
hitung jumlahnya.
1.2 Hasil Sebenarnya : Jumlah bulatan hitam tak terhingga.
f. Kesimpulan : Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa
mata praktikan melihat dengan berdasarkan
persepsi yang membuat ia meyakini
melihat banyak sekali bulatan hitam yang muncul. Bersamaan dan hal ini berkaitan
bahwa mata manusia khususnya tentang
persepsi visual manusia cenderung
menginterpretasikan sesuatu yang
sebenarnya tidak sedemikian apa yang
praktikan lihat. Retina atau selaput jala
merupakan bagian mata yang mengandung
reseptor yang menerima rangsangan
cahaya. Retina juga mengubah cahaya
menjadi sinyal saraf.
g. Daftar Pustaka : Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard,
E.R. (1983). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga.
Ebook Gunadarma
Hutapea, A. (2006). Keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
VI. Percobaan : Indera Penglihatan II
6. Nama Percobaan : Lingkaran Sama atau Beda
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan 2 buah lingkaran
putih yang dikelilingi bulatan-bulatan yang
lebih kecil dan lebih besar apakah sama
atau berbeda.
b. Dasar Teori : Fungsi lensa pada mata yaitu untuk
memfokuskan gambar yang masuk ke mata
supaya jatuhnya tepat di retina. Di lensa
mata manusia, terdapat otot yang dapat
merubah-rubah bentuknya sesuai dengan
kebutuhan. Objek yang kita lihat tentunya memiliki ukuran yang sama ataupun beda
dan semua benda yang kita lihat awalnya
berdasarkan persepsi.
c. Alat yang Digunakan : Kertas bergambar lingkaran putih, yang
satu (sebelah kiri) dikelilingi bulatan
bulatan putih yang lebih kecil daripada
bulatan putih utama, sedangkan yang satu
lagi, lingkaran putih di tengah dikelilingi
oleh bulatan-bulatan putih yang lebih besar
dari lingkaran utama.
d. Jalannya Percobaan : Praktikan diperintahkan untuk melihat
ke kertas yang bergambar lingkaran yang
mempunyai lingkaran utama. Selanjutnya
mata praktikan membedakan apakah sama
besarnya dengan lingkaran yang berada
disebelahnya. Amati. Kemudian catat
hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Saya melihat dua bulatan utama tersebut
berbeda.
1.2 Hasil Sebenarnya : Dua bulatan utama tersebut sama besar.
f. Kesimpulan : Retina adalah lapisan yang membuat
manusia bisa melihat. Lapisan retina
sangatlah lembut, sensitif, dan dipenuhi sel
syaraf. Fungsi retina adalah menangkap
cahaya yang masuk, mengubah cahaya
tersebut menjadi gambar, lalu
mengubahnya lagi menjadi sinyal
elektronik untuk dikirimkan ke otak supaya
kita bisa melihatnya.
g. Daftar Pustaka : Hutapea, A. (2006). Keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, B. (2007). Biologi. Jakarta: Interplus.
Syamsuri, I. (2007). Biologi. Jakarta:
Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar