Percobaan Indera Pengecap
Pada kesempatan kali ini, saya mau berbagi hasil percobaan indera pengecap tentang merasakan berbagai macam rasa yang saya lakukan. Yuk baca, simak sekaligus pelajari tambah-tambah wawasan ;)
Percobaan : Indera Pengecap
Nama Percobaan : Merasakan Berbagai Macam Rasa
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk memahami dan mengetahui bahwa
lidah merupakan alat pengecap rasa serta
membuat peta rasa.
b. Dasar Teori : Rasa atau gustasi, terjadi karena senyawa
kimiawi merangsang ribuan reseptor yang
ada di mulut. Reseptor-reseptor ini terletak
terutama di lidah, namun beberapa reseptor
juga ditemukan di tenggorokan, di bagian
dalam pipi, dan pada langit-langit mulut.
Bila anda melihat lidah anda melalui
sebuah cermin, maka anda akan melihat
banyak gumpalan kecil; yang disebut
sebagai papila (papillae), yang terdiri dari
beberapa bentuk. Dalam sebuah bentuk,
kecuali satu, sisi-sisi papila dipenuhi
dengan tunas perasa (taste buds), yang
ketika dilihat dari atas tampak seperti buah
jeruk. Karena adanya perbedaan genetis,
tunas perasa pada lidah manusia dapat
berkisar antara 500-10000 tunas perasa
(Miller dan Reedy, 1990).
Tunas perasa biasa disebut, secara salah,
sebagai reseptor rasa.Reseptor yang
sesunguhnya adalah sel-sel yang terdapat
di dalam tunas-tunas ini, biasanya 15-50
sel dalam satu tunas. Sel-sel ini
menjulurkan serat-serat kecil melalui
sebuah celah dalam tunas; letak reseptor
perasa ada pada serat-serat ini. Sel-sel
reseptor ini kemudian digantikan oleh sel-
sel baru setiap 10 hari. Namun demikian,
setelah usia 40 tahun atau lebih, jumlah
keseluruhan dari tunas rasa ini (dan
tentunya juga sel-sel reseptor) akan
menurun.
Dalam pemahaman tradisional, para
peneliti telah membagi rasa menjadi 4
macam rasa dasar: asam, asin, pahit, dan
manis, yang masing-masing dihasilkan oleh
senyawa kimia yang berbeda. Saat ini,
banyak peneliti telah memasukkan rasa
kelima, yaitu gurih/umami (dari bahasa
Jepang untuk “sedap”) yang merupakan
rasa dari monosodium glutamat (MSG);
yang ditemukan pada banyak makanan
yang kaya protein, termasuk daging, ikan,
kerang, dan rumput laut. Rasa dasar ini
merupakan bagian dari proses evolusi yang
diturunkan rasa pahit dan asam membantu
kita untuk mengidentifikasi makanan yang
beracun atau basi; rasa manis membantu
kita mengenali makanan yang menyehatkan
atau kaya akan kalori.
Pada hakekatnya, lidah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan indera khusus pengecap. Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot. Otot intrinsik lidah melakukan semuan gerakan halus, sementara otot ekstrinsik mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitrnya serta melaksanakan gerakan-gerakan kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan. Lidah mengaduk-aduk makanan, menekannya pada langit-laangit dan gigi, dan akhirnya mendorongnya masuk ke faring.
c. Alat yang Digunakan : Cotton bud, 8 larutan rasa (manis, asin,
pahit, asam, dan pedas), dan sapu tangan
(handuk kecil).
d. Jalannya Percobaan : Praktikan disuguhkan 8 buah gelas yang
masing-masing berisi berbagai macam air
di dalamnya. Lalu praktikan menyelupkan
cotton bud ke dalam gelas satu persatu
secara berurutan. Setelah dicelupkan
beberapa saat dan air sudah meresap,
angkat cotton bud dan letakkan di lidah
(rasakan). Kemudian catat hasilnya
berdasarkan macam-macam rasa yang
praktikan rasakan.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : 8/8. Praktikan berhasil menjawab semua
rasa dengan tepat.
1. Manis 5. Pedas+asin
2. Asin 6. Asam+pedas
3. Asam 7. Pahit+pedas
4. Pedas+manis 8. Pahit
1.2 Hasil Sebenarnya : 1. Manis 5. Pedas+asin
2. Asin 6. Asam+pedas
3. Asam 7. Pahit+pedas
4. Pedas+manis 8. Pahit
f. Kesimpulan : Rasa atau gustasi, terjadi karena senyawa
kimiawi merangsang ribuan reseptor yang
ada di mulut. Reseptor untuk membedakan
rasa makanan terdapat pada papila, yaitu
lapisan mukosa yang menutupi bagian atas
lidah yang permukaannya tidak rata karena
ada tonjolan-tonjolan.
g. Daftar Pustaka : Nelistya, A. 2009. Mengenal bagian tubuh
kita. Jakarta: PT Pacu Minat Baca.
Pearce, E. 2010. Anatomi dan fisiologi
untuk paramedis. Jakarta: PT Gramedia.
Wade, C., Travis, C. 2009. Psikologi
Jakarta: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar