Review Film My Stupid Boss
Cerita ini berawal dari seorang wanita karir bernama Diana yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari, yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal dikarenakan tuntutan pekerjaan suaminya yang diperankan oleh Alex Abbad. Setelah berpindah-pindah, akhirnya mereka menetap di sebuah apartemen yang terletak di Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah menetap selama 3 bulan, Diana memberitahu suaminya bahwa ia ingin bekerja. Awalnya sang suami tidak mengizinkan,namun karena Diana yang terus meminta hingga suaminya pun tak bisa menolak permintaan istrinya itu. Setelah memberi izin, suami Diana memberikan alamat perusahaan sahabatnya yang letaknya di Kuala Lumpur juga dan menghubungi sahabatnya tersebut untuk dapat memberikan istrinya pekerjaan. Sahabat suaminya adalah warga negara Indonesia yang memiliki perusahaan di Kuala Lumpur. Setelah diurus dan dikonfirmasi, Diana segera pergi ke perusahaan sahabat suaminya tersebut. Sesampainya di perusahaan tersebut, ternyata bukan hanya dia yang ingin melamar pekerjaan. Ada 2 orang wanita lainnya yang sedang menunggu dipanggil untuk interview. Diana pun duduk diantara kedua wanita itu. Tiba-tiba, seorang laki-laki bertubuh besar keluar dari sebuah ruangan sembari mengeluarkan caci maki, serta kalimat terakhirnya yang menyatakan “Jika anda tidak mau memecat saya, maka saya yang akan memecat diri saya sendiri sebagai pengacara anda”, dan kemudian laki-laki itu pergi dari perusahaan tersebut. Selanjutnya, dipanggillah satu persatu wanita yang menunggu panggilan interview. Kedua wanita tersebut juga keluar dari ruangan sembari marah-marah dan tampak sangat kesal, bahkan salah satu wanita tersebut mengucapkan kalimat yang tidak enak di dengar sembari melemparkan sepatu higheels-nya lalu pergi begitu saja. Diana yang melihat kejadian-kejadian tersebut, tampak heran dan bingung apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan tersebut. Tak lama kemudian, keluar seorang laki-laki bertubuh besar dan berperut buncit yang mengenakan pakaian jas rapih, yang tidak lain adalah sahabat suaminya sekaligus pemilik perusahaan tersebut yang daritadi tengah ditunggu Diana. Laki-laki tersebut memanggil salah satu karyawatinya “Sikiiin...” dan mengkomplain pekerjaannya yang salah, kemudian menengok ke arah Diana yang sedang duduk di kursi dan dengan ceplosnya berkata “Itu bilang sama dia, disini enggak terima sumbangan, suruh pergi aja”. Diana yang mendengar pembicaraan tersebut bergegas menghampiri laki-laki berperut buncit tersebut sembari berkata “Maaf Pak, saya bukan minta sumbangan, saya Diana”. “Diana? Oh kamu istrinya sahabat saya ya, ayo ayo silahkan masuk”, jawab laki-laki bertubuh besar itu.
Diana masuk dan duduk di ruangan bersama laki-laki itu. Laki-laki tersebut memperkenalkan diri dan meminta Diana untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Bossman’. Diana diposisikan sebagai Kerani (sebutan umtuk kepala staff dalam bahasa Malaysia). Mereka berdua berbincang hingga Diana mulai heran dengan sifat absurd yang dimiliki Bossnya itu. Salah satu ke absurd-annya adalah ketika Bossman mulai curhat hal yang tidak penting, diana hanya diam terheran, lalu bosnya malah berkata ceplosmya “kamu masih ada yang mau diomongin lg ga sih? Kalo ngomong sama saya tuh yang penting-penting aja gituloh, soalnya saya sibuk.” Diana menggelengkan kepala dengan raut wajah bingung. “kalo gada yang mau kamu omongin lagi, mendingan sekarang kamu pulang dan besok mulai kerja disini” kata bossman.
Keesokan harinya, Diana mulai bekerja sebagai kerani pada perusahaan tersebut. Kejadian-kejadian absurdpun semakin terasa, baik omongan ataupun perilaku Bossman dan karyawan-karyawannya. Misalnya, Bossman tidak mau mengganti AC di ruangan tersebut walaupunn AC di ruangan tersebut sudah terlalu tua dan tidak layak lagi untuk digunakan, memotong gaji karyawan seenaknya, memandangi dengan serius laptopnya yang ternyata hanyalah melihat gosip-gosip selebritis indonesia. Dan karyawan-karyawannya yang tidak kalah absudnya, antara lain Mr. Kho yang sering tertidur, Azhari yang selalu bertasbih dan membawa kitab, dan Adrian yang selalu menggoda Norahsikin dengan gombalan tak bermutunya yang selalu diacuhkan dan tidak pernah berhasil.
Hari demi hari dilalui, Dianapun mulai tidak tahan dan geram dengan keabsurd-an Bossman yang membuatnya kesal dan tidak tahan lagi. Dianapun curhat kepada suaminya tentang dialaminya, termasuk perilaku Bossman. Berkali-kali suaminya hanya menjawab “dia memang begitu orangnya” mendengar jawaban suaminya yang terus menerus seperti itu dianapun makin kesal. Akhirnya Diana menyatakan perang terhadap Bossman. Suaminya terus menenangkan Diana, namun emosinya tak kunjung reda sampai-sampai Ia ingin keluar dari perusahaan tersebut. Namun, Diana tidak ingin keluar karna sudah terikat kontrak dengan peusahaan tersebut. Jika diana mengundurkan diri, maka ia harus membayar sisa kontraknya kepada Bossman, Dianapun tidak ingin itu terjadi, maka diana berfikir, satu-satunya jalan agar ia bisa keluar dari perusahaan tersebut adalah dengan cara Bossman yang memecat dirinya agar diana tidak perlu membayar sisa kontrak terhadap Bossman, dan sebaliknya Bossman harus membayar sisa kontrak yang sudah terikat dengan Diana. Sudah beberapa hari perang mental itu berlangsung, dan akhirnya diana sudah tidak tahan dan memutuskan untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari.
Singkat cerita, saat Diana kembali ke kantor untuk mengundurkan diri, tiba-tiba ia langsung diajak bossman keluar untuk menemaninya ke suatu tempat. Saat sampai di tempat tujuan, Diana bingung untuk apa bossman mengajaknya ke rumah kebajikan yang kalau di Indonesia disebut panti asuhan. Bossman berbicara menemui pengurus rumah kebajikan tersebut dan berkata bahwa ia akan merenovasi rumah kebajikan tersebut dalam waktu dekat. Pengurus dan anak-anak pun merasa sangat bahagia atas kebaikan bossman. Tanpa terkecuali Diana, ia tidak menyangka bahwa dibalik sifat absurd, pelit, dan konyolnya bossman, ternyata ia memiliki hati besar dan kemurahan hati yang begitu besar.
Film ini bagus dan recommended, sangat cocok ditonton untuk para manusia yang lagi galau karena memiliki cerita yang mengundang tawa, kekonyolan yang diperankan para pemainnya berhasil mendapatkan feel komedinya. Namun dibalik kelucuan film ini juga memiliki pesan moral dan sosial pada akhir ceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar