Review Film The Boy

Beberapa waktu yang lalu, saya dan pacar saya pengen ngabisin quality time together dengan nonton film di bioskop. Saya pun pergi ke XXI berdua dan melihat-lihat movie schedule dahulu via handphone. Dan ternyata mayoritas didominasi film-film horror Holywood. Akhirnya, pilihan kami adalah film The Boy, karena pemain utamanya si Lauren Cohan, cewek seksi yang main di film The Walking Dead, dan film ini yang kayaknya seru liat covernya dan sinopsisnya yang yaa lumayan bikin penasaran pengen nonton. Dan berhubung horror adalah genre film favorit saya. Alhamdulillah pacar saya juga orangnya engga penakut malah saya yang kadang kaget hehehe.
Cerita berawal dari seorang cewe dari USA bernama Greta, pergi ke sebuah desa terpencil di UK, untuk menjadi nany (babysitter) & mengasuh seorang anak kecil yang ternyata adalah sebuah boneka keramik berwujud bocah lelaki bernama Brahms.
Wait... Boneka bocah laki2? Annabelle versi cowok nih feeling gue. Dan benar saja, di menit-menit awal film sudah membangunkan imajinasi penonton bahwa sosok Brahm si boneka bocah laki-laki di film ini bener-bener spooky. Adegan awal dimulai dengan pengenalan karakter-karakter di film ini. Greta sampai di sebuah rumah yang menyerupai kastil tua, yang merupakan rumah calon majikannya. Kesan pertama Greta pada rumah kastil tua itu adalah sangat excited & amazed banget. Sebuah rumah yang cukup lapang dengan furniture klasik mewah. Greta menyusuri beberapa area di rumah itu, dan dikagetkan oleh kehadiran Malcom, pria kurir Sembako untuk rumah itu.
Setelah beberapa saat menunggu, Akhirnya dia bertemu sang majikan, yaitu Mr. & Mrs. Heelshire. Kedua majikannya terlihat terlalu tua untuk memiliki seorang anak yang masih bocah. Dan benar saja, Mrs.Heelshire memperkenalkan Greta pada anak yang akan diasuhnya, Brahms. Melihat sebuah boneka yang terduduk di kursi, Greta berfikir ini adalah lelucon, tapi ternyata beneran boneka Brahms itulah yang akan ia jaga & rawat selama orang tuanya pergi.
Tiba-tiba sepatu Greta yang ditaruh di depan pintu masuk rumah pas tadi dia dateng, itu tiba-tiba menghilang. Mrs. Heelshire mengatakan, kalo Brahms memang sosok anak yang usil suka becanda, tapi pemalu. Greta pun iya'in aja. Awalnya sempat ragu, tapi akhirnya Greta pun menerima tawaran kerja itu. Kedua majikannya berpamitan, dan meninggalkan secarik kertas beberapa Rules list, tentang apa aja yang boleh & gak boleh dilakuin saat mengasuh Brahms, dan juga tentang kebiasaan favoritnya Brahms. Greta dalem hati cuma bisa bilang ; "yaelah, cuma gini doang? Magabut deh gue, jagain boneka & gue ditinggal sendiri di rumah segede ini?yeaaahhh I'm free".
Malcom yang dari awal brusaha merayu Greta akhirnya berkesempatan berkencan berkedok "masa orientasi" karna punya majikan yang sama. Dan malam itu, Greta bersiap-siap untuk pergi. Greta mandi pake shower, dan saya ga perlu jelasin gimana detailnya. Alangkah terkejutnya Greta, melihat gaun & kalung yang ditaruh di deket kamar mandi tadi juga raib entah kemana. Untuk pertama kalinya, Greta merasakan "kehadiran" sosok yang tak nampak, tengah membuntutinya. Tapi berusaha membantahnya dengan logika akal sehat. Singkat cerita, adegan itu berakhir dengan pingsannya Greta di loteng tua, karna kaget melihat sesosok yang mirip seorang pria berdiri dihadapannya.
Kurang lebih sebulan kemudian, Greta mulai akrab dengan Brahms, karna menurutnya Brahms adalah sosok hantu anak kecil yang penurut, alias gak nakal. Dan tentu Malcom pun curiga, ada apa gerangan dgn Greta yang nampaknya mulai gila. Malcom bercerita pada Greta, bahwa dulu ada seorang gadis kecil yang suka maen kerumahnya Brahms. Tapi suatu ketika, gadis kecil itu menghilang entah kemana, dan beberapa hari kemudian ditemukan tak bernyawa di hutan belantara dengan kondisi yang mengenaskan. Polisi pun mencurigai Brahms sebagai orang terakhir yang bersama gadis kecil itu. Tapi malang nasib Brahms, ia juga ditemukan tewas dalam kebakaran hebat dirumahnya sebelum polisi sempat menginterogasinya. Mendengar cerita Malcom, Greta pun masih tak percaya. Ia masih percaya kalo Brahms adalah anak manis yang gak nakal. Malcom lalu nambahin, kalo dulu sempet ngobrol sama papanya Brahms, Mr. Heelshire. Curhat colongan, dan sambil nangis keceplosan bilang kalo sebenernya Brahms itu adalah sosok anak yang aneh, bener2 aneh. Sakit jiwa.
Mendekati akhir film, datanglah mantan suami Greta, & berusaha membujuknya buat balikan & segera pergi dari tempat itu. Tapi Greta ogah buat balikan, & malam itu malah curhat sama Brahms, ngomong kalo dia gak bakal ninggalin Brahms sendirian, asalkan Brahms mau bantuin ngusir mantan suaminya itu dari rumah ini. Dan benar saja, sang mantan suami terbangun dari tidur dan kaget melihat ada teror dengan modus naroh bangkai hewan di koper & nulis kalimat "Pergi Kau" pake tinta darah. Sang suami yang tempramental itu akhirnya murka dan membanting boneka Brahms sampe pecah berkeping-keping.
Dan disinilah terjadi pergantian genre yang sama sekali tak terduga. Dari horror, berubah jadi thriller. Kok bisa? Ya, ternyata sosok Brahms yang sebelumnya diceritakan udah mati, ternyata ia masih hidup di balik dinding rumah kastil itu. Brahms ternyata udah jadi dewasa & psikopat. Yup, di akhir film ini mendadak jadi spot jantung, adegan bunuh-bunuhan & kejar-kejaran dengan psikopat yang mengancam nyawa.
Yup, menurut saya film ini lumayan keren. Karna secara alur cerita cukup bagus, gak mudah kebaca. Dan pergantian genre yang tak terduga juga jadi nilai plus dimata saya. Dari horror berubah seketika jadi thriller, yang awalnya saya kira sosok Brahms adalah sosok mahluk astral (hantu), & ternyata saya salah, Brahms yang asli adalah sosok pria psikopat pembunuh berdarah dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar