Percobaan Indera Peraba dan Gerak Refleks
Pada kesempatan kali ini, saya mau berbagi hasil percobaan indera peraba tentang perasaan pada kulit, daya membedakan sifat benda, lokalisasi taktil, dan gerak refleks yang saya lakukan. Yuk baca, simak sekaligus pelajari tambah-tambah wawasan ;)
I. Percobaan : Indera Peraba
1.1 Nama Percobaan : Perasaan pada Kulit
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui adanya reseptor tekanan,
sakit, sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak masing-masing reseptor.
b. Dasar Teori : Ada serabut saraf khusus untuk sensasi
kulit lainnya. Tetapi saat ini banyak aspek
dari sentuhan yang terus dipertanyakan
secara ilmiah. Misalnya mengapa
menyentuh secara lembut pada titik-titik
yang merespon tekanan menghasilkan rasa
geli, dan mengapa menggaruk tubuh terasa
melegakan (atau terkadang memperparah)
rasa gatal, dan mengapa rangsangan titik
panas dan dingin pada saat bersamaan tidak
menghasilkan rasa hangat, tetapi memberi
kita sensasi rasa panas. Menerjemahkan
pesan dari indera di kulit pada akhirnya
akan membuat kita mampu membedakan
kertas ampelas dari yang halus hingga yang
kasar.
c. Alat yang Digunakan : Amplas dengan berbagai tingkat kekasaran,
d. Jalannya Percobaan : Pertama, praktikan menutup matanya
dengan penutup mata. Kemudian dengan
mata yang ditutup, praktikan diberikan 3
buah amplas dengan berbagai tingkat
kekasaran. Lalu praktikan meraba ketiga
amplas tersebut dan mengurutkan dari
amplas yang terhalus hingga amplas yang
terkasar dengan mata tertutup.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : 3/3. Saya berhasil menjawab dan
mengurutkan semuanya dengan benar.
Amplas 1 : Halus
Amplas 2 : Sedang
Amplas 3 : Kasar
1.2 Hasil Sebenarnya : Amplas 1 : Halus
Amplas 2 : Sedang
Amplas 3 : Kasar
f. Kesimpulan : Kulit merupakan indera peraba yang dapat
digunakan untuk meraba benda apapun.
Menerjemahkan pesan dari indera di kulit
pada akhirnya akan membuat kita mampu
membedakan kertas ampelas dari yang
halus hingga yang kasar.
g. Daftar Pustaka : Handayani, N. 2009. Buku kantong biologi
sma. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama.
Sulianta, F. 2010. IT Ergonomics. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
Wade, C., Tavris, C. 2010. Psikologi.
Jakarta: Erlangga.
1.2 Nama Percobaan : Perasaan pada Kulit (Membedakan Suhu
Air)
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui adanya reseptor tekanan,
sakit, sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak masing-masing reseptor.
b. Dasar Teori : Indera yang ada di semua tubuh bagian luar
manusia yaitu indera peraba. Indera ini
terletak pada kulit yang terbagi ke dalam
tiga komponen sensor reseptor, yaitu:
1. Thermoreceptor : Respon terhadap panas dan dingin
2. Nocireceptor : Respon intensitas tekanan dan rasa sakit
3. Mechanoreceptor : Respon penekanan
Sensor mechanoreceptor inilah yang
banyak memainkan peranan sewaktu kita
bekerja menggunakan komputer, seperti
menekan tombol keyboard atau menekan
touch screen. Tanpa sensor ini, bisa jadi
Anda menekan layar touch screen terlalu
keras dan merusaknya.
c. Alat yang Digunakan : 3 baskom plastik.
d. Jalannya Percobaan : Pertama, siapkan 3 baskom plastik yang
masing-masing diisi air hangat, air biasa,
dan air dingin. Letakkan baskom berisi air
dingin di sebelah kiri, baskom berisi air
hangat di sebelah kanan, dan baskom berisi
air biasa di posisi tengah/diantara baskom
berisi air hangat dan dingin. Kemudian,
celupkan tangan kiri ke dalam baskom
sebelah kiri, dan celupkan tangan kanan ke
dalam baskom sebelah kanan, diamkan
beberapa saat. Setelah itu, angkat kedua
tangan secara bersamaan dan celupkan
sesegera mungkin kedua tangan ke dalam
baskom bagian tengah yang berisi air biasa.
Lalu rasakan apa yang kamu rasakan,
apakah terdapat perbedaan pada tangan
kanan dan kiri, catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Tangan kiri yang awalnya dicelupkan ke
dalam baskom berisi air dingin, lalu ketika
dicelupkan ke dalam baskom berisi air
biasa kemudian, tangan saya merasakan
suhu yang lebih hangat. Sedangkan tangan
kanan yang awalnya dicelupkan ke dalam
baskom air hangat, ketika dicelupkan ke
dalam baskom berisi air biasa kemudian,
tangan saya merasakan suhu yang lebih
dingin.
1.2 Hasil Sebenarnya : Membedakan suhu air
- Biasanya setelah dimasukkan ke
Baskom C, tangan kanan terasa dingin
dan tangan kiri terasa hangat.
mendeteksi panas dan dingin.
- Tangan kanan terasa dingin karena
panas ke hangat.
- Tangan kiri terasa hangat karena adanya
hangat.
f. Kesimpulan : Kulit merupakan indera peraba yang dapat
digunakan untuk merasakan benda apapun.
Kulit juga dapat membedakan suhu panas
dan dingin. Thermoreceptor : Respon
terhadap panas dan dingin. Dari air panas
ke air biasa, maka tangan akan terasa
dingin karena adanya pengurangan kalor.
Sedangkan dari air dingin ke air biasa,
tangan akan terasa hangat karena adanya
penambahan kalor.
g. Daftar Pustaka : Furqonita, D. 2009. Seri ipa biologi.
Jakarta: Yudhistira.
Handayani, N. 2009. Buku kantong biologi
sma. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama.
Sulianta, F. 2010. IT Ergonomics. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
1.3 Nama Percobaan : Perasaan pada Kulit (Membedakan Suhu 3
Cairan)
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui adanya reseptor tekanan,
sakit, sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak masing-masing reseptor.
b. Dasar Teori : Indera yang ada di semua tubuh bagian luar
manusia yaitu indera peraba. Indera ini
terletak pada kulit yang terbagi ke dalam
tiga komponen sensor reseptor, yaitu:
1. Thermoreceptor : Respon terhadap panas
dan dingin
2. Nocireceptor : Respon intensitas tekanan
dan rasa sakit
3. Mechanoreceptor : Respon penekanan
Sensor mechanoreceptor inilah yang
banyak memainkan peranan sewaktu kita
bekerja menggunakan komputer, seperti
menekan tombol keyboard atau menekan
touch screen. Tanpa sensor ini, bisa jadi
Anda menekan layar touch screen terlalu
keras dan merusaknya.
c. Alat yang Digunakan : Beberapa macam cairan atau larutan (air,
alkohol 70%, aseton).
d. Jalannya Percobaan : Pertama, tangan praktikan akan ditetesi air,
kemudian air di tangan tersebut ditiup oleh
praktikan. Rasakan. Kedua, tangan
praktikan akan ditetesi alkohol 70%,
kemudian tetesan alkohol di tangan
tersebut ditiup juga oleh praktikan.
Rasakan. Ketiga, tangan praktikan ditetesi
juga dengan aseton, kemudian tetesan
aseton di tangan tersebut ditiup pula oleh
praktikan sendiri. Rssakan. Setelah
merasakan ketiga cairan tersebut, catat
hasilnya, cairan manakah yang terasa lebih
dingin saat ditiup tetesannya di tangan.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Urutan cairan dari yang terasa lebih dingin
1. Aseton
2. Alkohol 70%
3. Air biasa
1.2 Hasil Sebenarnya : Membedakan Suhu 3 Cairan (Air,
Alkohol, dan Aseton).
- Air lebih dingin daripada hanya ditiup
- Alkohol lebih dingin dari air
- Aseton lebih dingin dari alkohol
reseptor End Krause
- Alkohol memiliki titik didih yang
rendah , sehingga ketika mengenai kulit,
alkohol akan langsung menguap.
Selama proses penguapan alkohol
memerlukan kalor yang diambil dari
tubuh, maka kulit akan terasa dingin.
f. Kesimpulan : Kulit merupakan indera peraba yang dapat
digunakan untuk merasakan benda apapun.
Kulit juga dapat membedakan suhu panas
dan dingin. Thermoreceptor : Respon
terhadap panas dan dingin. Aseton lebih
dingin dibandingkan alkohol. Alkohol lebih
dingin dibandingkan air biasa.
g. Daftar Pustaka : Furqonita, D. 2009. Seri ipa biologi.
Jakarta: Yudhistira.
Handayani, N. 2009. Buku kantong biologi
sma. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama.
Sulianta, F. 2010. IT Ergonomics. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
II. Percobaan : Indera Peraba
2.1 Nama Percobaan : Daya Membedakan Sifat Benda
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan kepekaan pada syaraf
peraba terhadap kehalusan benda sampai
kekasaran benda; serta bentuk-bentuk
benda (Streognostik)
b. Dasar Teori : Kegunaan kulit tidaklah sedangkal kulit itu
sendiri. Selain melindungi bagian dalam
tubuh, kulit kita yang lebarnya sekitar 2
meter persegi membantu kita mengenali
objek-objek dan membangun keakraban
dengan orang lain. Dengan memberikan
batasan antara diri kita dan hal lain yang
ada di luar kita, kulit juga memberikan kita
perasaan mengenai diri kita sendiri sebagai
sesuatu yang berbeda dari lingkungan.
Indera dasar yang ada dalam kulit meliputi
sentuhan atau tekanan, panas, dingin, dan
rasa sakit. Dalam keempat tipe ini terdapat
variasi seperti gatal, geli, dan rasa sakit
terbakar. Meskipun titik-titik tertentu pada
kulit biasanya sangat peka pada empat
sensasi dasar kulit tersebut, untuk sekian
lama para peneliti mengalami kesulitan
menemukan reseptor-reseptor yang berbeda
untuk sensasi-sensasi ini, kecuali untuk
tekanan. Tetapi kemudian peneliti dari
Swedia menemukan sebuah serabut saraf
baru yang tampaknya memainkan peranan
untuk jenis rasa gatal tertentu (Schmelz
dkk., 1997). Para peneliti juga telah
mengidentifikasikan kemungkinan adanya
reseptor dingin (Mckemy, Neuhausser, &
Julius, 2002; Peier dkk., 2002).
c. Alat yang Digunakan : Penutup mata, berbagai macam bentuk
balok (kubus, silinder, lingkaran, segitiga,
kerucut)
d. Jalannya Percobaan : Pertama, mata praktikan ditutup dengan
kain penutup. Kemudian praktikan akan
diberikan 5 benda yang berbeda-beda satu
persatu. Lalu praktikan akan meraba benda
tersebut satu persatu dan menebaknya.
Setelah dijawab semua, mata praktikan
akan dibuka dan melihat benda-benda
tersebut apakah jawaban-jawabannya benar
atau salah, setelah itu catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : 5/5. Huruf D, huruf R, buah paprika,
bentuk lingkaran, dan buah sirsak.
Praktikan berhasil menjawab kelima benda
tersebut dengan benar dan tepat.
1.2 Hasil Sebenarnya : Tidak ada hasil sebenarnya
f. Kesimpulan : Kulit merupakan indera peraba yang dapat
digunakan untuk meraba benda apapun.
Praktikan memiliki indera peraba yang
peka karena berhasil menjawab semua uji
coba dengan tepat.
g. Daftar Pustaka : Handayani, N. 2009. Buku kantong biologi
sma. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama.
Sulianta, F. 2010. IT Ergonomics. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
Wade, C., Tavris, C. 2010. Psikologi.
Jakarta: Erlangga.
III. Percobaan : Indera Peraba
3.1 Nama Percobaan : Lokalisasi Taktil
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk memahami serta mengetahui
kepekaan syaraf peraba dengan melokalisir
tempat yang ditusukkan ke berbagai tempat;
serta mengetahui kepekaan TPL (Two
Point Localization).
b. Dasar Teori : Alat indera berfungsi sebagai penerima
rangsang dari luar, karena memiliki
reseptor khusus untuk mengenali
perubahan lingkungan. Indera Peraba (kulit)
dan perasa disebut tengoreseptor. Letaknya
tersebar di seluruh permukaan kulit dengan
jumlah tidak merata
Terdapat pula di dalam alat-alat dalam
tubuh sehingga dapat merasakan lapar, dan
haus. Adapun indera peraba adalah indera
yang paling luas wilayahnya karena
meliputi seluruh permukaan kulit. Oleh
sebab itu, ia disebut juga indera kulit.
Sebenarnya, apa yang kita kenal dengan
indera perabaan tidaklah tunggal, tetapi
sekurang-kurangnya terdiri atas 4 aspek:
peraba berupa tekanan pada kulit (pressure),
rasa sakit (pain), panas, dan dingin
(Atkinson et al., 1991:195).
c. Alat yang Digunakan : Pulpen yang tumpul ujungnya, spidol,
penggaris.
d. Jalannya Percobaan : Pertama, mata praktikan ditutup dengan
kain penutup mata. Kemudian tangan
praktikan akan ditusuk dengan spidol atau
pulpen yag tumpul. Lalu dengan sesegera
mungkin praktikan harus menusuk atau
mencoret sesuai dengan yang praktikan
rasakan sebelumnya dengan mata tertutup.
Jarak kedua coretan akan diukur dan dicatat
hasilnya. Setelah itu ulangi sekali lagi.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Jarak 1 1/2 cm pada coretan pertama, dan 1
cm pada coretan kedua.
peraba baik
peraba kurang baik
peka pada bagian yang menonjol (hidung,
mata, bibir, ujung jari, telinga, dll)
- Jarak yang asisten tusuk dengan yang
waktu.
f. Kesimpulan : Kulit merupakan indera peraba yang dapat
digunakan untuk merasakan benda apapun.
TPL lebih peka pada bagian yang menonjol.
Jarak yang dihasilkan dalam uji coba
bergantung waktu. Praktikan memiliki
saraf peraba baik karena hasil uji coba
praktikan kurang dari 5 cm.
g. Daftar Pustaka : Handayani, N. 2009. Buku kantong biologi
sma. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama.
Sulianta, F. 2010. IT Ergonomics. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
Wade, C., Tavris, C. 2010. Psikologi.
Jakarta: Erlangga.
IV. Percobaan : Indera Peraba
4.1 Nama Percobaan : Gerak Refleks
Nama Subjek Percobaan : Tiara Ayu Wirahutami
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui adanya gerakan-gerakan
refleks pada otot.
b. Dasar Teori : Sumsum tulang belakang merupakan pusat
gerak refleks. Gerak refleks merupakan
gerakan yang berlangsung tanpa disadari,
tidak diolah oleh otak, serta terjadi secara
otomatis dan cepat. Gerak refleks berbeda
dengan gerak biasa. Terjadinya gerak
refleks dapat digambarkan sebagai berikut.
gerak refleks.
c. Alat yang Digunakan : Sebuah martil refleks dengan bagian depan
terbuat dari karet.
d. Jalannya Percobaan : Pertama, praktikan disuruh duduk diatas
meja hingga posisi kakinya menggantung.
Kemudian lutut praktikan akan diketuk
menggunkan sebuah martil refleks dengan
bagian depan terbuat dari karet. Amati apa
yang terjadi. Apakah akan terjadi gerak
refleks pada lutut, catat hasilnya.
e. Hasil Percobaan
1.1 Hasil Individu : Lutut praktikan mengalami gerak refleks
saat dipukul menggunakan martil refleks.
1.2 Hasil Sebenarnya : - Lutut yang dipukul dengan martil refleks
ada gerak refleks.
juga terasa seperti tersetrum.
f. Kesimpulan : Gerak refleks merupakan gerakan yang
berlangsung tanpa disadari, tidak diolah
oleh otak, serta terjadi secara otomatis dan
Cepat. Lutut yang dipukul dengan martil
refleks secara spontan akan bergerak
sendiri karena adanya gerak refleks.
g. Daftar Pustaka : Furqonita, D. 2009. Seri ipa biologi.
Jakarta: Yudhistira.
Sulianta, F. 2010. IT Ergonomics. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
Wade, C., Tavris, C. 2010. Psikologi.
Jakarta: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar